BAIS dan Ujian Akuntabilitas TNI
Rabu, 25 Maret 2026
Oleh: Selamat Ginting, Analis Politik dan Militer Universitas Nasional (UNAS)
Upacara serah-terima jabatan Kepala BAIS TNI, dari Letjen Yudi Abrimantyo ke Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto, Rabu lalu, jelas bukan acara rutin. Acaranya mungkin biasa, tapi suasana politiknya tegang. Latar belakangnya, kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Kontras, Andrie Yunus, yang diduga melibatkan personel BAIS. Peristiwa ini jadi sinyal keras. TNI sedang diuji, dan ujiannya berat. Soalnya bukan cuma disiplin internal, tapi juga soal kepercayaan publik terhadap institusi bersenjata.
Kenapa sensitif? Intelijen militer itu dunianya sunyi. Kerjanya dalam diam, tertutup, penuh risiko. Nah, ketika aktor dari dunia "sunyi" itu muncul di kasus kekerasan yang terang-benderang, yang goyah bukan cuma satu-dua orang. Kredibilitas seluruh sistemlah yang dipertanyakan.
Dari kacamata militer, langkah sentralisasi kendali ke Panglima ini pola klasik. Manajemen krisis ala organisasi bersenjata. Dalam satuan strategis macam BAIS, pelanggaran oleh satu personel jarang dilihat sebagai kesalahan individu semata. Itu bisa dibaca sebagai gejala gangguan pada rantai komando, keretakan kohesi satuan, bahkan bocornya keamanan informasi. Makanya responsnya harus struktural, bukan sekadar menghukum si pelaku.
Dengan mengambil alih langsung, Panglima TNI kirim dua pesan. Pertama, kasus ini dianggap sangat serius, sehingga harus ditangani di level pucuk pimpinan. Kedua, ini upaya mencegah friksi internal atau loyalitas ganda yang bisa mengganggu proses hukum. Intinya, langkah ini semacam "sterilisasi organisasi". Membersihkan kemungkinan konflik di tubuh BAIS agar fungsi intelijen strategisnya tetap jalan.
Di sisi lain, ada kalkulasi politik yang tak kalah penting. Kasus penyiraman air keras di Indonesia punya resonansi emosional yang kuat di masyarakat. Presiden Prabowo Subianto sendiri sudah minta kasus ini diusut tuntas. Ini bukan sekadar tindak kriminal biasa, tapi sudah menyentuh ranah simbol kekerasan dan ketidakadilan.
Kalau lambat atau tertutup, kasus ini bisa dengan mudah berubah jadi krisis kepercayaan. Padahal, selama ini TNI masih menikmati tingkat kepercayaan publik yang lumayan tinggi. Dengan menarik kendali ke Panglima, TNI berusaha kirim pesan: institusi ini tidak akan melindungi pelanggar, sekalipun dari unit elitnya. Ini manajemen persepsi yang krusial, untuk memotong narasi bahwa militer tutup-tutupan.
Artikel Terkait
China Protes Keras Penyusupan Perwira Jepang ke Kedutaan di Tokyo
Operasi Ketupat 2026 Resmi Ditutup, Angka Fatalitas Kecelakaan Turun 30,89 Persen
AS Ancam Serang Iran Lebih Keras Jika Tolak Proposal Gencatan Senjata
Mahfud MD Sebut Langkah KPK dalam Kasus Gus Yaqut Lincah dan Cerdik