Manfaatnya berlapis. Menurut Agung, kehadiran pabrik ini diproyeksikan bakal menghemat devisa yang cukup fantastis, yaitu sekitar USD 13,9 juta atau setara Rp 233,52 miliar per tahun yang biasanya habis untuk impor BBM. Belum lagi dampak lingkungannya.
"Ini akan menekan impor BBM dan menekan emisi karbon," katanya.
Agung melanjutkan, melalui substitusi impor itu, ketahanan energi bisa tercapai. Sementara pengurangan emisi karbon hingga 66 ribu ton CO2 ekuivalen per tahun akan berkontribusi pada tujuan keberlanjutan.
Lalu, ke mana hasil produksinya mengalir? Rencananya, bioetanol dari Banyuwangi akan dikirim ke terminal BBM Pertamina. Di sana, proses blending dilakukan sebelum akhirnya disalurkan ke masyarakat melalui jaringan SPBU di seluruh Indonesia.
Ini baru permulaan. Agung menyebut, ke depan wilayah implementasi akan diperluas dan kandungan etanolnya ditingkatkan. Harapannya, Indonesia bisa sejajar dengan negara-negara besar lain yang telah lebih dulu mengadopsi etanol sebagai bagian dari bahan bakar bersih mereka.
Sebuah langkah awal yang menjanjikan, dari ujung timur Pulau Jawa.
Artikel Terkait
Pimpinan Baru OJK Langsung Gelar Rapat Perdana Usai Dilantik di MA
Pemerintah Tetapkan WFH Wajib untuk Instansi, Imbauan untuk Swasta
Pemulihan Pascabencana Sumatera Diperkirakan Tembus Rp130 Triliun
Menkeu Tegaskan Indonesia Belum dalam Kondisi Darurat Energi