Perencanaan Huntara Modular di Bener Meriah tidak hanya berfokus pada penyediaan tempat tinggal darurat. Desain kawasan dirancang secara komprehensif untuk menciptakan lingkungan hunian yang layak dan berkelanjutan, meski bersifat sementara. Setiap unit dilengkapi dengan fasilitas sanitasi pribadi, termasuk shower dan kloset.
Secara khusus, pemerintah juga menyiapkan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas dengan menyediakan empat unit hunian dan toilet yang ramah difabel. Dari sisi utilitas, kebutuhan air bersih akan dipasok dari sumur bor sedalam 52 meter, sementara pengolahan air limbah menggunakan sistem biotank untuk meminimalisir dampak lingkungan. Pasokan listrik telah berkoordinasi dengan PT PLN (Persero).
Kesiapan Penghuni dan Tahap Selanjutnya
Aspek sosial dari proyek ini juga telah dipersiapkan. Pemerintah menyatakan bahwa proses identifikasi dan pendataan calon penghuni telah selesai, sehingga relokasi dapat segera dilakukan begitu Huntara dinyatakan siap huni.
"Calon penghuninya sudah siap. Harapannya di awal-awal Ramadan masyarakat yang terdampak sudah bisa langsung menghuni. Saat ini memang masih on progress, tapi kita akan kejar agar selesai tepat waktu," tutur Dody.
Keberadaan area multifungsi, mushola, area parkir, dan ruang terbuka hijau diharapkan dapat mendukung aktivitas sosial dan keagamaan masyarakat, terutama dalam menyambut bulan Ramadan. Pembangunan Huntara Modular ini merupakan bagian dari fase tanggap darurat, dengan komitmen jangka panjang Kementerian PUPR untuk mempersiapkan transisi menuju pembangunan hunian tetap yang lebih permanen dan berkelanjutan bagi warga Aceh.
Artikel Terkait
Menteri ESDM Imbau Masyarakat Tenang, Stok BBM Nasional Masih Aman
Tiket Kereta Ekonomi Kerakyatan Mudik Lebaran 2026 Laris, Okupansi Lampaui 100%
TAUD Kecam Konferensi Pers TNI, Penjelasan Kasus Andrie Yunus Dinilai Tak Sentuh Substansi
Komnas HAM Belum Ambil Sikap, Proses Penyidikan Kasus Penyiraman Aktivis KontraS Berlanjut