Gempa Megathrust M6,2 Guncang Pacitan, Satu Warga Meninggal Dunia

- Jumat, 06 Februari 2026 | 20:15 WIB
Gempa Megathrust M6,2 Guncang Pacitan, Satu Warga Meninggal Dunia

MURIANETWORK.COM - Gempa bumi berkekuatan signifikan mengguncang wilayah Pacitan, Jawa Timur, pada Jumat (6/2/2026) dini hari. Peristiwa ini mengakibatkan korban jiwa satu orang serta kerusakan pada sejumlah bangunan warga. Berdasarkan analisis terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa dengan magnitudo yang diperbarui menjadi 6,2 ini berpusat di laut dengan kedalaman menengah dan tidak berpotensi tsunami, meski dikategorikan sebagai gempa megathrust.

Korban Jiwa dan Kerusakan Material

Dampak langsung gempa terasa menyayat bagi masyarakat setempat. Satu warga, Joko Santoso (53) dari Kecamatan Ngadirojo, dilaporkan meninggal dunia akibat peristiwa tersebut. Di sisi lain, guncangan juga merusak sejumlah rumah penduduk. Data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pacitan mencatat setidaknya lima unit rumah mengalami kerusakan.

Salah satu kerusakan parah dialami oleh rumah Sumarno di Kelurahan Ploso, di mana struktur atap dan dindingnya mengalami keruntuhan. Kejadian ini menggambarkan kekuatan guncangan yang mampu meluluhlantakkan bangunan yang tidak cukup tahan gempa.

Analisis BMKG: Megathrust Tanpa Ancaman Tsunami

Meski menimbulkan kepanikan, otoritas meteorologi dan geofisika dengan cepat memberikan penjelasan untuk meredakan kecemasan masyarakat. BMKG menegaskan bahwa gempa ini tidak membangkitkan ancaman gelombang tsunami.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, memberikan penjelasan rinci melalui keterangan resmi. Ia menyatakan bahwa parameter gempa berada di bawah ambang batas yang biasanya memicu tsunami.

“Patut disyukuri bahwa gempa Pacitan ini tidak mencapai magnitudo 7,0 karena jika itu terjadi dapat berpotensi tsunami,” ungkap Daryono.

Lebih lanjut, Daryono memaparkan karakteristik teknis gempa tersebut. Hasil analisis terkini memutakhirkan data dengan magnitudo M6,2 dan kedalaman hiposenter 58 kilometer di bawah permukaan laut, pada koordinat 8,98° LS dan 111,18° BT.

“Gempa Pacitan ini jenis gempa megathrust, yang tergambar dari mekanismenya yang berupa pergerakan naik (thrusting) dengan kedalaman dangkal,” jelasnya.

Pernyataan ini menggarisbawahi sifat gempa yang berasal dari zona subduksi lempeng, sebuah fenomena geologis yang biasa terjadi di wilayah tersebut namun selalu memerlukan kewaspadaan tinggi.

Guncangan Terasa hingga Jarak Jauh

Kekuatan gempa terbukti dari sebaran laporan guncangan yang mencapai berbagai wilayah di Jawa Tengah dan Timur. Menurut catatan BMKG, getaran terkuat dirasakan di Pacitan, Bantul, dan Sleman dengan intensitas IV pada Skala MMI (Modified Mercalli Intensity), yang berarti getaran dapat dirasakan oleh banyak orang di dalam rumah dan benda-benda ringan dapat terguncang.

Sementara itu, wilayah yang lebih jauh seperti Ponorogo, Trenggalek, Wonogiri, hingga Cirebon melaporkan intensitas getaran pada level III MMI. Data ini menunjukkan betapa luasnya area yang terdampak oleh gempa yang berpusat di lepas pantai Pacitan tersebut, meski dengan tingkat kerusakan yang terkonsentrasi di dekat episentrum.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar