KAI Gandeng detikcom Latih 25 Pegawai Humas Tingkatkan Kompetensi Komunikasi Digital

- Jumat, 08 Mei 2026 | 04:00 WIB
KAI Gandeng detikcom Latih 25 Pegawai Humas Tingkatkan Kompetensi Komunikasi Digital

Di tengah derasnya arus informasi digital yang menuntut kecepatan sekaligus akurasi, PT Kereta Api Indonesia (KAI) mengambil langkah strategis untuk memperkuat kapasitas komunikasi tim humasnya. Perusahaan pelat merah itu menyadari bahwa menyampaikan informasi yang efektif dan kredibel kepada publik bukan lagi sekadar kebutuhan, melainkan sebuah keharusan di era yang serba dinamis ini.

Untuk mewujudkan hal tersebut, KAI menggandeng detikcom dalam sebuah program pelatihan publik bertajuk "Newscraft & Relationlab". Pelatihan ini dirancang untuk membekali para peserta dengan pemahaman menyeluruh, mulai dari strategi branding hingga cara kerja media. Sebanyak 25 pegawai dari bidang Corporate Communication KAI turut serta dalam kegiatan yang berlangsung di Artotel Thamrin, Jakarta Pusat, pada Rabu (6/5/2026).

Dalam sesi pertama, Head of Brand Communication detikcom, Karel Anderson, menekankan bahwa komunikasi dan branding bukanlah sekadar soal menyampaikan pesan. Menurutnya, esensi dari branding adalah bagaimana pesan tersebut dapat dirasakan dan diresapi oleh audiens.

"Branding itu bukan diikutkan dengan hype (tren), tapi membangun value jangka panjang," ujarnya.

Ia menambahkan, keberhasilan sebuah komunikasi tidak semata-mata ditentukan oleh apa yang ingin disampaikan perusahaan, melainkan juga bagaimana respons yang muncul dari publik. "Kita bisa kontrol pesan, tapi gak bisa memaksakan kesan. Maka narasi boleh sama, rasanya yang harus beda," katanya.

Sementara itu, Pemimpin Redaksi detikcom, Ardhi Suryadhi, yang mengisi sesi kedua, memaparkan secara rinci tentang jurnalisme dan proses pemberitaan. Ia menjelaskan bagaimana media menentukan nilai berita atau news value dari sebuah informasi. "Gampangnya, news value adalah ini. Menurut saya, sebagai media yang sering berinteraksi dengan teman-teman di humas korporasi atau pemerintahan lembaga, ini penting," tuturnya.

Ardhi juga mengungkapkan bahwa proses kerja redaksi saat ini telah banyak didukung oleh teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI). Namun, ia menegaskan bahwa AI hanyalah alat bantu, bukan pengganti peran jurnalis. "Saya garis bawahi dan saya bold ya, bukan untuk menulis, untuk memberikan rekomendasi," tegasnya.

Di sisi lain, ia menyoroti pentingnya verifikasi dalam praktik jurnalistik, terutama saat mengambil informasi dari media sosial. Menurutnya, meskipun dewan pers memperbolehkan media mengutip dari media sosial, proses check-recheck, pemeriksaan fakta, dan klarifikasi tetap wajib dilakukan. "Nah, ini pembedanya antara kami di media dengan pengguna sosial media perorangan," lanjutnya.

VP Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyambut baik kolaborasi ini. Ia berharap pelatihan tersebut dapat meningkatkan kompetensi para peserta, khususnya dalam mendukung reputasi perusahaan. "Harapannya dengan adanya kolaborasi ini teman-teman (peserta) semakin bisa meningkatkan kualitas tulisannya, bagaimana juga mereka bisa meningkatkan kompetensi mereka untuk peningkatan reputasi perusahaan," ucapnya.

Senada dengan Anne, salah seorang peserta, Rizky Firman Prasetyo, mengaku kegiatan ini memberikan pengalaman berharga. "Sangat menarik ya, karena kita secara institusi, secara korporasi, bisa dipertemukan langsung dengan momen yang menurut saya sangat langka," ungkapnya.

Acara yang berlangsung selama sehari itu kemudian ditutup dengan sesi games interaktif untuk memperkuat pemahaman materi secara lebih ringan. Kegiatan diakhiri dengan foto bersama sebagai penanda berakhirnya rangkaian Public Training "Newscraft & Relationlab" antara KAI dan detikcom.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar