Perlambatan ini terutama disumbang oleh dua segmen properti yang biasanya menjadi penopang pasar.
"Perlambatan tersebut terutama didorong oleh rumah tipe besar dan menengah yang tumbuh masing-masing sebesar 0,17 persen (qtq) dan 0,12 persen (qtq), lebih rendah dibandingkan 0,19 persen (qtq) dan 0,33 persen (qtq) pada triwulan III-2025," jelas laporan survei tersebut.
Namun, ada sedikit cerah di segmen terbawah. Berbeda dengan tren umum, harga rumah tipe kecil justru menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan triwulanan mencapai 0,28 persen, lebih tinggi dari periode sebelumnya. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa permintaan untuk hunian dengan harga lebih terjangkau masih relatif kuat, meski dalam skala yang tetap terbatas.
Membaca Sinyal Pasar
Data dari otoritas moneter ini memberikan gambaran yang jelas: pasar properti residensial primer Indonesia sedang dalam fase 'pendinginan' yang terkendali. Pertumbuhan yang minim mencerminkan keseimbangan baru antara penawaran dari pengembang dan daya beli calon konsumen yang mungkin masih berhati-hati akibat berbagai faktor ekonomi. Meski tidak ada penurunan harga, laju kenaikannya yang hampir datar menjadi sinyal bagi para pemangku kepentingan untuk membaca pasar dengan lebih cermat ke depannya.
Artikel Terkait
Raksasa Teknologi Siapkan Rp12.000 Triliun untuk Perang Infrastruktur AI
ASDP Siapkan Kapal Khusus Motor untuk Antisipasi Puncak Arus Balik Lebaran 2026 di Bakauheni
China Batasi Kenaikan BBM Meski Harga Minyak Dunia Melonjak Akibat Ketegangan Timur Tengah
Trump Buka Pintu Negosiasi dengan Iran Setelah Ancaman Militer