MURIANETWORK.COM - Harga properti residensial baru di Indonesia menunjukkan pertumbuhan yang sangat terbatas pada akhir tahun 2025. Data terbaru dari Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia mengungkapkan bahwa kenaikan harga di pasar primer hampir tidak bergerak pada triwulan IV-2025, melanjutkan tren stagnasi yang terjadi dalam beberapa periode terakhir. Kondisi ini menggambarkan pasar properti yang sedang dalam fase konsolidasi, di mana daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi makro berperan besar.
Pertumbuhan Tahunan yang Hampir Datar
Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada triwulan terakhir 2025 tercatat di angka 110,56. Secara tahunan, indeks ini hanya naik 0,83 persen, sebuah angka yang nyaris identik dengan pertumbuhan 0,84 persen pada triwulan sebelumnya. Kestabilan angka ini menunjukkan bahwa dinamika kenaikan harga benar-benar melambat, berbeda dengan tren pesat yang kerap terjadi di masa lalu.
Jika dilihat per segmen, performanya cukup beragam. Rumah tipe menengah, misalnya, masih mencatatkan kenaikan tertinggi secara tahunan sebesar 1,12 persen, meski angkanya sedikit melunak dibanding triwulan III. Sementara itu, rumah tipe kecil justru mengalami akselerasi tipis dengan pertumbuhan 0,76 persen. Di sisi lain, segmen rumah tipe besar tumbuh stabil di level 0,72 persen.
Dari Sisi Triwulanan: Perlambatan yang Nyata
Analisis yang lebih detail terlihat dari pergerakan triwulanan. Dibandingkan triwulan III-2025, IHPR pada periode Oktober-Desember hanya naik 0,17 persen. Angka ini lebih rendah dari pertumbuhan 0,22 persen yang dicatat sebelumnya, menandakan adanya tekanan atau kehati-hatian yang lebih besar di kuartal penutup tahun.
Perlambatan ini terutama disumbang oleh dua segmen properti yang biasanya menjadi penopang pasar.
"Perlambatan tersebut terutama didorong oleh rumah tipe besar dan menengah yang tumbuh masing-masing sebesar 0,17 persen (qtq) dan 0,12 persen (qtq), lebih rendah dibandingkan 0,19 persen (qtq) dan 0,33 persen (qtq) pada triwulan III-2025," jelas laporan survei tersebut.
Namun, ada sedikit cerah di segmen terbawah. Berbeda dengan tren umum, harga rumah tipe kecil justru menunjukkan ketahanan dengan pertumbuhan triwulanan mencapai 0,28 persen, lebih tinggi dari periode sebelumnya. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa permintaan untuk hunian dengan harga lebih terjangkau masih relatif kuat, meski dalam skala yang tetap terbatas.
Membaca Sinyal Pasar
Data dari otoritas moneter ini memberikan gambaran yang jelas: pasar properti residensial primer Indonesia sedang dalam fase 'pendinginan' yang terkendali. Pertumbuhan yang minim mencerminkan keseimbangan baru antara penawaran dari pengembang dan daya beli calon konsumen yang mungkin masih berhati-hati akibat berbagai faktor ekonomi. Meski tidak ada penurunan harga, laju kenaikannya yang hampir datar menjadi sinyal bagi para pemangku kepentingan untuk membaca pasar dengan lebih cermat ke depannya.
Artikel Terkait
Wamenkes Tegaskan Rumah Sakit Dilarang Tolak Pasien karena Status BPJS Nonaktif
Produksi Gula Nasional 2025 Capai 2,67 Juta Ton, Fondasi Menuju Swasembada
Dasco Ingatkan Kader Gerindra: Pertahankan Kemenangan Lebih Berat
KPK Periksa Rini Soemarno Terkait Kasus Dugaan Korupsi Jual Beli Gas PGN