Eddy menjelaskan, praktik modifikasi cuaca yang sering dilakukan pada puncak musim hujan justru menimbulkan masalah identifikasi. Menjadi sangat sulit, bahkan mustahil, untuk membedakan mana hujan hasil intervensi manusia dan mana yang merupakan fenomena alamiah. Ketidakpastian ini, lanjutnya, menjadi alasan banyak negara di kawasan Asia Tenggara mulai meninggalkan metode serupa.
Lebih lanjut, Eddy menegaskan bahwa teknologi ini, termasuk yang dibantu kecerdasan buatan sekalipun, tidak dapat menjamin lokasi pasti jatuhnya hujan hasil semaian. Hal ini berpotensi memindahkan masalah dari satu lokasi ke lokasi lain tanpa penyelesaian yang terkendali.
Anomali Penerapan di Indonesia
Peneliti BRIN itu juga menyoroti pola penerapan modifikasi cuaca di Indonesia yang dinilai tidak tepat waktu. Idealnya, teknologi ini dimanfaatkan pada musim kemarau untuk mengisi waduk atau mengatasi kekeringan, dengan menyemaikan awan di atas laut agar hujan turun di daratan yang membutuhkan.
Dengan demikian, penggunaan teknologi pada musim hujan untuk mencegah banjir justru dianggap sebagai penerapan yang terbalik dari prinsip dasarnya. Eddy menekankan pentingnya kajian ulang yang mendalam berbasis sains sebelum kebijakan serupa terus dijalankan, guna menghindari pemborosan anggaran dan potensi dampak yang tidak diinginkan.
Artikel Terkait
Korlantas Imbau Pemudik Hindari Puncak Arus Balik 24 Maret
Iran Ancam Serang Infrastruktur Energi Regional Balas Ultimatum Trump
Akses Puncak Monas Ditutup Lebih Awal Selama Libur Lebaran 2026
OJK Rancang Aturan Permodalan Baru untuk Perkuat BPR/S