Iran baru saja membuka koridor pelayaran aman di Selat Hormuz. Kabar ini muncul di tengah ketegangan yang masih membayangi jalur laut strategis itu. Intinya, kapal-kapal yang mau lewat bisa dapat pengawalan khusus, tapi tentu saja, ada harganya.
Bayarannya tidak main-main. Menurut laporan dari Lloyd's List edisi Sabtu (21/3/2026), satu kapal diketahui merogoh kocek hingga 2 juta dolar AS, atau kira-kira Rp34 miliar, untuk sekali lintas menggunakan jalur aman ini. Angka yang fantastis, namun mungkin sepadan dengan jaminan keamanan yang ditawarkan.
Lalu, siapa saja yang sudah pakai? Menurut beberapa sumber di lapangan, setidaknya sudah sembilan kapal yang melintas. Kapal-kapal ini punya kesamaan: tidak ada hubungan dengan Amerika Serikat atau Israel. Mereka diarahkan melewati perairan teritorial Iran, tepatnya di antara Pulau Qeshm dan Larak.
Kenapa rute itu yang dipilih? Tujuannya sederhana: memudahkan konfirmasi visual. Dengan begitu, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan otoritas pelabuhan setempat bisa memantau pergerakan setiap kapal dengan lebih ketat. Prosedurnya sendiri cukup ketat.
Sebelum diizinkan melintas, setiap kapal wajib melaporkan detail lengkap soal kepemilikannya dan tujuan kargo. Yang menarik, komunikasi ini tidak dilakukan secara langsung ke pemerintah Iran, melainkan melalui serangkaian individu yang berafiliasi dengan Tehran dan beroperasi di luar negeri.
Pembicaraan soal skema ini rupanya sudah berjalan. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada 15 Maret lalu menyatakan negaranya terbuka untuk berdiskusi dengan negara mana pun yang ingin membahas jalur aman bagi kapalnya.
Nyatanya, sejumlah negara sudah menyambut sinyal itu. Menurut sejumlah saksi, beberapa negara seperti India, Pakistan, Irak, Malaysia, dan China dikabarkan telah memulai komunikasi dengan pihak Iran. Mereka tampaknya sedang menimbang-nimbang opsi ini.
Perkembangan terbaru ini jelas menambah dinamika baru di Selat Hormuz. Di satu sisi, ini bisa dilihat sebagai solusi praktis. Di sisi lain, ini juga menunjukkan kompleksnya situasi dan upaya Iran untuk tetap mengendalikan arus lalu lintas di halaman depannya sendiri.
Artikel Terkait
OJK: Piutang Multifinance Tumbuh Tipis, Pembiayaan Digital dan Pegadaian Melesat
BPOM: Indonesia Miliki 31.000 Jenis Tumbuhan Siap Jadi Bahan Baku Kosmetik Alami
Konflik Geopolitik Global Dongkrak Biaya Produksi Kosmetik Nasional
BMW Raup Pendapatan Sebelum Pajak Rp46,98 Triliun, Anjlok 25 Persen Imbas Tarif AS dan Serbuan Mobil China