Konflik Geopolitik Global Dongkrak Biaya Produksi Kosmetik Nasional

- Rabu, 06 Mei 2026 | 18:30 WIB
Konflik Geopolitik Global Dongkrak Biaya Produksi Kosmetik Nasional

Konflik geopolitik global yang berkepanjangan mulai memberikan tekanan nyata terhadap industri kosmetik dalam negeri. Ketua Persatuan Perusahaan Kosmetik Indonesia (Perkosmi), Sancoyo Antarikso, mengungkapkan bahwa situasi tersebut memicu dua dampak utama yang dirasakan langsung oleh para pelaku usaha di sektor kecantikan.

Pernyataan itu disampaikan Sancoyo di sela-sela gelaran Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) Expo 2026 yang diselenggarakan Perkosmi di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Rabu, 6 Mei 2026. Menurutnya, dampak pertama yang paling terasa adalah penguatan nilai tukar dolar Amerika Serikat yang secara langsung membengkakkan biaya produksi. Sebab, sebagian besar bahan baku pembuatan kosmetik masih bergantung pada pasokan impor dari luar negeri.

“Jadi konflik geopolitik itu dua, pertama dolarnya makin mahal, satu itu,” ungkap Sancoyo.

Di sisi lain, gangguan pada rantai pasok global turut memperparah kondisi. Distribusi material menjadi terhambat, termasuk sejumlah bahan baku kemasan berbasis petrokimia yang juga ikut terdampak. Sancoyo menjelaskan bahwa hambatan logistik ini memperlambat proses produksi dan pengiriman barang ke pasar.

“Kedua juga supply chain-nya terganggu. Nah, kemudian kalau yang berbahan baku, misalnya yang dari petrochemicals, itu kan juga terdampak. Bahan-bahan kemasan kan mungkin juga terdampak,” ucap dia.

Meskipun tekanan tersebut masih dirasakan, Sancoyo menuturkan bahwa bebannya mulai berkurang setelah pemerintah memberikan relaksasi berupa pembebasan bea masuk impor, khususnya untuk produk plastik. Kebijakan ini dinilai cukup membantu meskipun efeknya belum langsung terasa secara signifikan.

“Kita seneng juga kemarin ada relaksasi biaya masuk itu. Nah, itu benar-benar bisa membantu juga, meskipun juga gak langsung,” pungkas dia.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar