Pemerintah Siapkan Stimulus Baru, Insentif Mobil dan Motor Listrik Mulai Juni 2026

- Rabu, 06 Mei 2026 | 20:40 WIB
Pemerintah Siapkan Stimulus Baru, Insentif Mobil dan Motor Listrik Mulai Juni 2026

Pemerintah tengah menyusun sejumlah paket stimulus baru untuk menggerakkan roda perekonomian pada kuartal kedua tahun 2026, sebagai upaya menjaga laju pertumbuhan ekonomi nasional tetap berada di atas lima persen. Langkah ini diambil di tengah tekanan global dan dinamika domestik yang berpotensi memperlambat kinerja ekonomi.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa tambahan dorongan fiskal tersebut sangat penting untuk mencegah perlambatan. Ia menilai tanpa intervensi, risiko penurunan aktivitas ekonomi cukup nyata. “Saya melihat kalau enggak didorong terus ekonominya, bisa melambat juga. Jadi saya coba kasih stimulus tambahan ke ekonomi,” ujarnya di Jakarta, Rabu (6/5/2026).

Purbaya berharap kebijakan ini mampu mempertahankan ritme pertumbuhan yang pada kuartal pertama tahun ini telah mencapai 5,61 persen secara tahunan. Salah satu instrumen utama dalam paket stimulus tersebut adalah insentif Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) untuk pembelian kendaraan listrik.

Pemerintah akan memberikan subsidi dengan besaran yang dibedakan berdasarkan jenis baterai. Kendaraan yang menggunakan baterai berbasis nikel akan mendapat alokasi subsidi lebih besar, sejalan dengan upaya mendukung hilirisasi nikel di dalam negeri. Target awal yang disiapkan sebanyak 100.000 unit untuk mobil listrik dan 100.000 unit untuk motor listrik, dengan fleksibilitas penambahan jika serapan pasar tinggi. Program ini direncanakan mulai berlaku pada Juni 2026, dengan tujuan menekan konsumsi bahan bakar minyak dan mempercepat transisi energi.

“Langkah pertama ya 100.000 mobil, 100.000 motor. Kalau habis, bisa kita tambah lagi,” kata Purbaya.

Di luar sektor otomotif, pemerintah juga menyiapkan skema pembiayaan khusus bagi perusahaan eksportir. Melalui Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) atau Indonesia Eximbank, akan diluncurkan program kredit dengan bunga rendah yang difokuskan pada perusahaan yang membutuhkan peremajaan mesin produksi, terutama di sektor tekstil. Potensi suku bunga kredit ditekan hingga kisaran enam persen atau bahkan lebih rendah.

“Kita ingin industri bisa dapat akses pembiayaan lebih murah supaya bisa ekspansi dan meningkatkan daya saing,” ujar Purbaya.

Secara keseluruhan, Menteri Keuangan menegaskan bahwa kondisi ekonomi nasional tetap tangguh meskipun terdapat dinamika di beberapa sektor industri tertentu. Pemerintah, menurutnya, akan terus memastikan likuiditas yang cukup agar dunia usaha dapat bergerak. “Pebisnis juga tidak perlu terlalu khawatir, ekonomi kita masih akan terus membaik,” tuturnya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar