MURIANETWORK.COM - Pemerintah Indonesia menargetkan untuk memulai konstruksi proyek-proyek Waste-to-Energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi pada tahun 2026 ini. Langkah strategis ini diambil untuk menjawab dua tantangan sekaligus: mengatasi timbunan sampah nasional yang mencapai lebih dari 189.000 ton per hari dan mendiversifikasi bauran energi nasional. Proyek percontohan akan menyasar 33 kota yang memiliki produksi sampah minimal 1.000 ton per hari.
Percepatan Proyek dan Tantangan di Lapangan
Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan adanya upaya percepatan dalam proses lelang proyek WtE. Ia membandingkan durasi negosiasi yang sebelumnya bisa memakan waktu bertahun-tahun dengan proses yang kini lebih efisien.
"Dahulu negosiasinya, mohon maaf, satu proyek saja itu bisa 3-4 tahun baru putus. Sekarang kita baru buka Desember, kemarin mulai bidding di awal. Target kita, Maret sudah bisa groundbreaking," tuturnya dalam acara 'Semangat Awal Tahun 2026', Rabu (14/1/2026).
Namun, di balik optimisme tersebut, para pelaku industri mengingatkan bahwa tantangan nyata tak hanya terletak pada teknologi pembangkit. Kesiapan sistem operasional di lapangan, khususnya dalam penanganan dan pergerakan limbah yang stabil, menjadi faktor penentu utama. Tanpa sistem yang andal, fasilitas WtE berisiko mengalami gangguan pasokan bahan baku, henti operasi yang sering, dan lonjakan biaya yang menggerus kelayakan ekonomi jangka panjang.
Artikel Terkait
Istri Tahanan Ungkap Yaqut Hilang dari Rutan KPK Sejak Kamis Malam
Barcelona Hadapi Rayo Vallecano di Camp Nou dalam Perburuan Gelar LaLiga
KPK Alihkan Status Tahanan Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas ke Rumah
Menteri Luar Negeri Iran Ucapkan Idulfitri dan Apresiasi Dukungan Indonesia, Malaysia, Brunei