Pemerintah Targetkan Groundbreaking Proyek Sampah Jadi Energi pada Maret 2026

- Kamis, 05 Februari 2026 | 01:20 WIB
Pemerintah Targetkan Groundbreaking Proyek Sampah Jadi Energi pada Maret 2026

MURIANETWORK.COM - Pemerintah Indonesia menargetkan untuk memulai konstruksi proyek-proyek Waste-to-Energy (WtE) atau pengolahan sampah menjadi energi pada tahun 2026 ini. Langkah strategis ini diambil untuk menjawab dua tantangan sekaligus: mengatasi timbunan sampah nasional yang mencapai lebih dari 189.000 ton per hari dan mendiversifikasi bauran energi nasional. Proyek percontohan akan menyasar 33 kota yang memiliki produksi sampah minimal 1.000 ton per hari.

Percepatan Proyek dan Tantangan di Lapangan

Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan adanya upaya percepatan dalam proses lelang proyek WtE. Ia membandingkan durasi negosiasi yang sebelumnya bisa memakan waktu bertahun-tahun dengan proses yang kini lebih efisien.

"Dahulu negosiasinya, mohon maaf, satu proyek saja itu bisa 3-4 tahun baru putus. Sekarang kita baru buka Desember, kemarin mulai bidding di awal. Target kita, Maret sudah bisa groundbreaking," tuturnya dalam acara 'Semangat Awal Tahun 2026', Rabu (14/1/2026).

Namun, di balik optimisme tersebut, para pelaku industri mengingatkan bahwa tantangan nyata tak hanya terletak pada teknologi pembangkit. Kesiapan sistem operasional di lapangan, khususnya dalam penanganan dan pergerakan limbah yang stabil, menjadi faktor penentu utama. Tanpa sistem yang andal, fasilitas WtE berisiko mengalami gangguan pasokan bahan baku, henti operasi yang sering, dan lonjakan biaya yang menggerus kelayakan ekonomi jangka panjang.

Peran Krusial Sistem Penanganan Limbah Terintegrasi

Menyadari titik kritis ini, sejumlah perusahaan pendukung mulai berperan lebih luas dengan menawarkan solusi sistemik. PT Multicrane Perkasa (MCP), misalnya, terlibat dalam beberapa proyek WtE dengan pendekatan terpadu, mencakup tahap pra-pengolahan sampah hingga memasok bahan baku ke fasilitas utama. Perusahaan ini mengandalkan sistem crane elektrik dan material handler khusus yang dirancang untuk menangani limbah.

Pendekatan ini dinilai mampu menjaga konsistensi aliran material, mengurangi risiko gangguan mekanis, dan pada akhirnya meminimalkan downtime. Efisiensi dalam proses transfer limbah menjadi kunci untuk menciptakan operasi yang berkelanjutan.

Stabilitas Operasional: Kunci Keberlanjutan Jangka Panjang

Presiden Direktur PT Multicrane Perkasa, Adrianus Hadiwinata, menegaskan bahwa fondasi keberhasilan proyek WtE dibangun di lapangan, jauh sebelum sampah diubah menjadi energi. Menurutnya, teknologi pembangkit yang canggih tidak akan optimal tanpa dukungan operasional yang solid.

"Pengelolaan sampah berkelanjutan membutuhkan dukungan operasional yang solid. Stabilitas penanganan limbah menjadi faktor penting agar proyek WtE dapat berjalan secara efisien dan berkelanjutan," jelasnya dalam keterangan resmi, Rabu (4/2/2026).

Pernyataan ini menyoroti sebuah prinsip dasar dalam pengelolaan infrastruktur kompleks: keberlanjutan teknis harus sejalan dengan keberlanjutan operasional. Seiring dengan komitmen pemerintah yang semakin kuat, kolaborasi dengan mitra industri yang memahami karakteristik unik limbah domestik menjadi semakin vital. Dengan sinergi yang tepat, proyek WtE diharapkan tidak hanya menyala, tetapi juga mampu bertahan dan memberikan manfaat ekonomi serta lingkungan secara berkesinambungan.

Komentar