Lebaran kali ini punya arti khusus buat Naila. Gadis 12 tahun itu, yang namanya sempat mengharu-biru karena kisahnya dengan Presiden Prabowo, akhirnya punya alasan untuk tersenyum lebar. Ia kini punya rumah. Sebuah tempat yang layak untuk disebut rumah.
Dia berdiri di depan bangunan baru itu, seragam SRMP 23 Makassar masih melekat di tubuhnya, baret merah di kepala. Suaranya gemetar saat mengucap terima kasih.
"Terima kasih Bapak Presiden Prabowo sudah memberi saya rumah. Semoga Bapak sehat selalu, panjang umur, bertambah rezeki,"
Ucap Naila suatu hari di akhir Maret. Untuk pertama kalinya, pulang kampung nanti bakal dibarengi kabar bahagia ini.
Dulu, hidupnya terasa sempit. Keluarganya menempati bilik berukuran 5x4 meter, berdiri di atas tanah orang lain. Kini, di kawasan Salodong, berdiri rumah barunya. Hasil kerjasama pemerintah pusat dan daerah.
"Lebih nyaman daripada yang sebelumnya. kalau sebelumnya itu kurang layak. Terus banyak orang tinggal di sana," cerita Naila.
"Sekarang tempatnya sudah layak. Sudah punya rumah sendirian," sambungnya, ringan.
Latar belakang Naila memang tak mudah. Dia anak dari keluarga prasejahtera di Makassar. Ayahnya, Syamsul, sehari-hari mencari nafkah sebagai juru parkir dan buruh bangunan. Sang ibu, Nurlia, membantu nenek berjualan. Hidup pas-pasan.
Kondisi rumah lamanya pun memprihatinkan. Tim Pendamping PKH yang meninjau langsung mencatat dinding retak, atap bocor, lantai tanah berdebu. Dan yang paling pelik: seluruh bangunan itu berdiri di lahan yang bukan milik mereka. Lingkungan sekitarnya juga tak jauh berbeda, penuh dengan keluarga yang rentan dan butuh uluran tangan.
Melihat itu, Presiden Prabowo langsung meminta agar keluarga seperti Naila segera dipindahkan. Pemkot Makassar lantas bergerak cepat. Mereka menyiapkan lahan di Salodong untuk dibangun 30 rumah layak huni secara bertahap.
Ada momen mengharukan saat kunci rumah itu diserahkan. Naila tidak buru-buru masuk. Dia hanya menatapnya dari luar, lama, seolah sedang memastikan mimpi itu nyata. Bahwa rumah kecil itu benar-benar miliknya sekarang.
Begitu pintu terbuka, terlihat ruangan kecil namun bersih. Dinding panel putih memantulkan cahaya lembut dari jendela. Suasana yang asing, tapi menyenangkan.
Di kamar tidurnya, Naila dengan hati-hati menata boneka beruang kecil di atas meja. Ibunya di sampingnya, ikut merapikan sambil sesekali tertawa kecil. Di ruang tengah, sebuah kipas angin berdiri. Ada juga kulkas kecil yang sudah diisi persediaan sederhana: telur, air minum.
Beranda rumah tak kalah diperhatikan. Dua kursi berwarna oranye terpasang rapi, menjadi tempat favorit Naila untuk bersantai. Dekat pintu, rak sepatu kecil menunggu. Semuanya baru, tertata, dan mulai terasa seperti rumah.
Perubahan fisik ini rupanya berdampak lebih dalam. Naila kini merasa dihargai. Dia merasa dipedulikan, dan yang paling penting, merasa layak untuk dapat masa depan yang lebih baik.
Jadi, saat Lebaran tiba, Naila akan pulang kampung dengan hati yang jauh lebih ringan. Sudah ada rencana yang disusunnya.
"Pulang kampung mau ketemu nenek, bikin acara keluarga," jelasnya penuh semangat.
Kepala Sekolah SRMP 23 Makassar, Radya, turut bersyukur menyaksikan transformasi muridnya.
"Naila yang awalnya pemalu, sekarang lebih percaya diri, periang. Dia membawa aura positif bagi teman-temannya," ujar Radya.
Pihak sekolah sendiri memastikan perjalanan mudik para siswanya aman dan tertib.
"Transport mudik disiapkan, lengkap dengan hampers untuk orang tua," pungkasnya menutup pembicaraan.
Artikel Terkait
Dua Petinggi Sritex Divonis 14 dan 12 Tahun Penjara atas Korupsi Kredit Rp1,35 Triliun
Polisi Serahkan Empat Tersangka SMS Phishing E-Tilang Palsu ke Kejaksaan
Pemprov DKI Jakarta Prioritaskan Penataan 211 RW Kumuh di Jakarta Barat dan Jakarta Utara pada 2026
Pemilahan Sampah di Jakarta Resmi Dimulai 10 Mei, Digandengkan dengan CFD Rasuna Said