Naila, Gadis Makassar yang Pernah Haru-Biru Prabowo, Kini Resmi Miliki Rumah Layak Huni

- Minggu, 22 Maret 2026 | 14:10 WIB
Naila, Gadis Makassar yang Pernah Haru-Biru Prabowo, Kini Resmi Miliki Rumah Layak Huni

Lebaran kali ini punya arti khusus buat Naila. Gadis 12 tahun itu, yang namanya sempat mengharu-biru karena kisahnya dengan Presiden Prabowo, akhirnya punya alasan untuk tersenyum lebar. Ia kini punya rumah. Sebuah tempat yang layak untuk disebut rumah.

Dia berdiri di depan bangunan baru itu, seragam SRMP 23 Makassar masih melekat di tubuhnya, baret merah di kepala. Suaranya gemetar saat mengucap terima kasih.

"Terima kasih Bapak Presiden Prabowo sudah memberi saya rumah. Semoga Bapak sehat selalu, panjang umur, bertambah rezeki,"

Ucap Naila suatu hari di akhir Maret. Untuk pertama kalinya, pulang kampung nanti bakal dibarengi kabar bahagia ini.

Dulu, hidupnya terasa sempit. Keluarganya menempati bilik berukuran 5x4 meter, berdiri di atas tanah orang lain. Kini, di kawasan Salodong, berdiri rumah barunya. Hasil kerjasama pemerintah pusat dan daerah.

"Lebih nyaman daripada yang sebelumnya. kalau sebelumnya itu kurang layak. Terus banyak orang tinggal di sana," cerita Naila.

"Sekarang tempatnya sudah layak. Sudah punya rumah sendirian," sambungnya, ringan.

Latar belakang Naila memang tak mudah. Dia anak dari keluarga prasejahtera di Makassar. Ayahnya, Syamsul, sehari-hari mencari nafkah sebagai juru parkir dan buruh bangunan. Sang ibu, Nurlia, membantu nenek berjualan. Hidup pas-pasan.

Kondisi rumah lamanya pun memprihatinkan. Tim Pendamping PKH yang meninjau langsung mencatat dinding retak, atap bocor, lantai tanah berdebu. Dan yang paling pelik: seluruh bangunan itu berdiri di lahan yang bukan milik mereka. Lingkungan sekitarnya juga tak jauh berbeda, penuh dengan keluarga yang rentan dan butuh uluran tangan.

Melihat itu, Presiden Prabowo langsung meminta agar keluarga seperti Naila segera dipindahkan. Pemkot Makassar lantas bergerak cepat. Mereka menyiapkan lahan di Salodong untuk dibangun 30 rumah layak huni secara bertahap.

Ada momen mengharukan saat kunci rumah itu diserahkan. Naila tidak buru-buru masuk. Dia hanya menatapnya dari luar, lama, seolah sedang memastikan mimpi itu nyata. Bahwa rumah kecil itu benar-benar miliknya sekarang.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar