Pencapaian ini sejalan dengan momentum BYD secara global. Di tahun yang sama, raksasa asal Tiongkok ini mendistribusikan 4,6 juta unit kendaraan ke seluruh dunia, dengan 1 juta unit di antaranya diekspor.
Di Asia Tenggara, posisi mereka juga kuat. BYD jadi merek nomor satu di Singapura dan penjualannya sangat signifikan di Thailand. Keberhasilan regional ini tentu memperkuat citra dan posisinya di Indonesia.
Perkembangan BYD di dalam negeri nggak cuma soal angka penjualan. Mereka juga aktif mengikuti dinamika industri otomotif nasional yang sedang gencar menuju elektrifikasi.
Jaringan layanan purna jual mereka terus diperluas ke berbagai daerah. Yang lebih penting, rencana produksi lokal pun sudah disiapkan dan ditargetkan berjalan pada 2026 nanti.
Rencana pembangunan pabrik itu menunjukkan sesuatu. Elektrifikasi nggak cuma terjadi di sisi konsumen, tapi mulai merambah struktur industri dalam negeri. Kehadiran pabrik lokal berpotensi menguatkan rantai pasok, membuka lapangan kerja, dan tentu saja meningkatkan daya saing industri kita di era transisi energi.
Untuk memperluas pasar, BYD juga menjalin kolaborasi dengan perusahaan pembiayaan, penyedia layanan mobilitas, hingga sektor "ride-hailing".
Upaya edukasi mereka jalan terus, salah satunya lewat roadshow ke kampus-kampus seperti Undip Semarang, ITB, dan Unhas Makassar.
Mereka bahkan tak lupa pada program lingkungan. Baru-baru ini ada inisiatif penanaman 500 pohon mangrove yang diperkirakan mampu serap sekitar 10 ton CO₂ per tahun.
Inisiatif seperti ini menunjukkan satu hal: perkembangan BEV di Indonesia nggak cuma bergantung pada produk bagus semata. Faktor keterjangkauan dan dukungan ekosistem yang berkelanjutan sama pentingnya.
Artikel Terkait
Polytron Raih Gelar Motor Listrik Favorit Gen Z di YCA 2026
Roy Suryo Dilaporkan Eggi Sudjana, Tetap Ngotot Usut Ijazah Jokowi
Wisatawan Indonesia ke Korea Selatan Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Masa
Anak Bohong Usia di Medsos, Kominfo Soroti Bahaya Konten Dewasa