Fadli Zon Luncurkan Buku Sejarah Indonesia 10 Jilid, Ditulis 123 Sejarawan

- Minggu, 14 Desember 2025 | 16:12 WIB
Fadli Zon Luncurkan Buku Sejarah Indonesia 10 Jilid, Ditulis 123 Sejarawan

Di Kantor Kementerian Kebudayaan, Jakarta, Minggu (14/12) lalu, suasana tampak berbeda. Fadli Zon, sang Menteri, secara resmi meluncurkan sebuah karya besar: buku penulisan ulang sejarah Republik Indonesia. Buku yang diberi judul “Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global” itu langsung menarik perhatian banyak kalangan.

Yang ditekankan Fadli, proses penulisan buku ini benar-benar diserahkan pada ahlinya. Pemerintah sama sekali tidak ikut campur. Para sejarawan dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta lah yang menjadi motor utamanya.

“Jadi memang ini ditulis oleh para ahlinya, yaitu sejarawan Indonesia yang tadi telah disebutkan, 123 penulis dari 34 perguruan tinggi se-Indonesia,” jelas Fadli Zon dalam acara peluncuran tersebut.

Buku ini bukanlah bacaan ringan. Terdiri dari sepuluh jilid tebal dengan total halaman mendekati angka 8.000, ia membentang narasi dari era kemerdekaan hingga masa demokrasi sekarang. Namun begitu, Fadli sendiri mengakui bahwa karya sebesar ini pun belum bisa dibilang final atau sempurna.

“Sepuluh jilid yang telah dihasilkan oleh para penulis, para sejarawan kita, tentu tidaklah sempurna. Kenapa saya katakan tidak sempurna? Karena pasti tidak akan mencakup secara keseluruhan,” ungkapnya dengan jujur.

Perbedaan Pendapat? Itu Wajar

Sebagai politikus Gerindra, Fadli tentu sadar proyek sepenting ini tak lepas dari sorotan dan bahkan penolakan. Ia justru melihatnya sebagai hal yang lumrah. Dalam sebuah negara demokrasi, perdebatan sejarah hampir tak terelakkan.

“Saya kira kalau terjadi perbedaan pendapat itu satu hal yang sangat biasa, dan saya kira harus agree to disagree sebagai bagian dari demokrasi kita,” tuturnya.

Di akhir pernyataannya, ia berusaha menegaskan niat di balik proyek monumental ini.

“Saya yakin ini bukan untuk kepentingan politik, ini adalah untuk kepentingan bangsa dan negara kita. Dan ini adalah bagian dari upaya kita untuk merawat memori kolektif bangsa,” tutup dia.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler