Kalau kita lihat ke belakang, grafiknya memang konsisten naik: mulai dari 538 peserta di Juni 2023, lalu 1.564 (Oktober 2024), 1.711 (Mei 2025), dan 1.904 (September 2025). Lima seri berturut-turut, angkanya terus merangkak naik. Fenomena yang cukup langka untuk sebuah kompetisi.
Timo, pelatih berlisensi UEFA A Pro itu, punya analisis sendiri. Menurutnya, ini tak lepas dari kultur sepak bola yang sudah mendarah daging di Bandung. Sepak bola di sini bukan cuma urusan pria.
“Bandung memang kelihatan antusiasmenya dari awal sekali luar biasa. Karena memang saya lihat Bandung ini kan spesial ya dari sisi sepak bolanya memang gila banget bola gitu. Jadi bukan hanya cowok-cowoknya yang gila bola, ceweknya juga gila bola gitu,”
jelas Timo dengan semangat.
“Jadi memang enggak heran gitu bahwa di sini ketemu banyak talenta yang sudah main sama cowok sebelumnya. Dan sekarang sangat bersyukur bisa bertanding di antara mereka sendiri gitu, ada wadahnya itu. Itu saya enggak heran ngelihatnya gitu,”
tandasnya. Wadah seperti MLSC akhirnya menjadi jawaban atas semangat dan bakat yang selama ini sudah ada.
Jadi, secara keseluruhan, seri kali ini bukan sekadar event biasa. Ia adalah bukti bahwa sepak bola wanita, dengan dukungan dan ruang yang tepat, bisa berkembang pesat. Baik dari segi partisipasi maupun kualitas permainan. Dan Bandung, sekali lagi, menunjukkan gelagatnya sebagai salah satu kawah candradimuka bagi bakat-bakat muda.
Artikel Terkait
Di Balik Retorika Keras Trump, Niat Serang Iran Ternyata Belum Ada
Lebih dari 3.100 WNI Korban Sindikat Penipuan di Kamboja, Proses Pemulangan Masih Berjalan
Pramono Anung Tegaskan Jakarta Bebas dari Virus Nipah
Mimpi Whoosh ke Surabaya Masih Hidup, Tapi Terhalang Utang