Gelaran MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Bandung seri kedua tahun ini benar-benar menunjukkan perkembangan. Timo Scheunemann, selaku Pelatih Kepala MLSC, tak bisa menyembunyikan rasa puasnya. Menurutnya, event sepak bola wanita usia dini di Kota Kembang itu bukan cuma ramai, tapi juga makin berkualitas.
Peningkatan kualitas itu, katanya, terlihat jelas dari lahirnya juara-juara baru. Di kategori U-10, misalnya, SDN 035 Soka berhasil meraih trofi pertamanya. Sementara itu, SDN 036 Ujungberung berjaya di kategori U-12. Prestasi mereka ini cukup mengejutkan.
“Bandung luar biasa. Kalau saya lihat, All-Stars-nya nanti termasuk salah satu yang punya kans untuk juara,”
Ucap Timo usai acara awarding di Lapangan Chandradimuka Pusdikif, Bandung, Minggu (1/2) lalu. Optimismenya tinggi melihat potensi yang ada.
Namun begitu, dia juga bersikap realistis. “Tapi saya harus lihat dulu besok. Kita kumpulkan pemain-pemain yang kita pilih, kita bandingkan. Oke, saat ini dia main dengan pemain-pemain yang kurang bagus misalnya. Nanti kalau sudah ketemu sama pemain yang lumayan, yang bagus, gimana (hasilnya). Ya itu besok kita pilih lagi gitu,”
lanjutnya. Proses seleksi untuk tim All-Stars masih panjang, dan performa di level yang lebih tinggi akan jadi penentu.
Di sisi lain, gelombang antusiasme peserta ternyata tak kalah menggembirakan. MLSC Bandung berhasil mempertahankan tren kenaikan peserta sejak 2023. Kali ini, ada 2.154 siswi dari 91 SD dan MI yang turun ke lapangan. Angka ini memecahkan rekor.
Kalau kita lihat ke belakang, grafiknya memang konsisten naik: mulai dari 538 peserta di Juni 2023, lalu 1.564 (Oktober 2024), 1.711 (Mei 2025), dan 1.904 (September 2025). Lima seri berturut-turut, angkanya terus merangkak naik. Fenomena yang cukup langka untuk sebuah kompetisi.
Timo, pelatih berlisensi UEFA A Pro itu, punya analisis sendiri. Menurutnya, ini tak lepas dari kultur sepak bola yang sudah mendarah daging di Bandung. Sepak bola di sini bukan cuma urusan pria.
“Bandung memang kelihatan antusiasmenya dari awal sekali luar biasa. Karena memang saya lihat Bandung ini kan spesial ya dari sisi sepak bolanya memang gila banget bola gitu. Jadi bukan hanya cowok-cowoknya yang gila bola, ceweknya juga gila bola gitu,”
jelas Timo dengan semangat.
“Jadi memang enggak heran gitu bahwa di sini ketemu banyak talenta yang sudah main sama cowok sebelumnya. Dan sekarang sangat bersyukur bisa bertanding di antara mereka sendiri gitu, ada wadahnya itu. Itu saya enggak heran ngelihatnya gitu,”
tandasnya. Wadah seperti MLSC akhirnya menjadi jawaban atas semangat dan bakat yang selama ini sudah ada.
Jadi, secara keseluruhan, seri kali ini bukan sekadar event biasa. Ia adalah bukti bahwa sepak bola wanita, dengan dukungan dan ruang yang tepat, bisa berkembang pesat. Baik dari segi partisipasi maupun kualitas permainan. Dan Bandung, sekali lagi, menunjukkan gelagatnya sebagai salah satu kawah candradimuka bagi bakat-bakat muda.
Artikel Terkait
Penolakan Warga Hambat Pembangunan Sekolah Rakyat di Temanggung, Mensos: Lahan Sudah Clear and Clean
Indonesia Diproyeksikan Jadi Pasar Penerbangan Terbesar Keempat Dunia pada 2030, Tantangan MRO Masih Membayangi
Anthropic Siapkan Dana Rp3.200 Triliun untuk Google Cloud, Jadi Kontrak AI Terbesar
Pemerintah Pastikan Kesiapan SDM Kompeten untuk Penuhi Kebutuhan Industri Kendaraan Listrik