Intinya jelas. Bagi sang pelatih, kualitas teknis boleh saja tertinggal, tapi semangat dan kebanggaan bermain untuk negara tidak boleh absen. Sayangnya, menurut pengamatannya di lapangan, justru elemen dasar itulah yang ia rasa kurang.
Namun begitu, sindiran pedas itu seolah menjadi cambuk. Perlahan tapi pasti, sepak bola Indonesia menunjukkan perubahan. Shin Tae-yong, pelatih Timnas Indonesia sebelumnya, pernah mengakui bahwa ada peningkatan disiplin dan mental pemain lokal.
Perubahan itu makin terasa dengan masuknya darah baru: pemain-pemain keturunan. Kombinasi antara bakat diaspora dan pembinaan dalam negeri mulai membuahkan hasil. Prestasi pun mulai datang. Untuk pertama kalinya, Garuda berhasil melangkah ke babak 16 besar Piala Asia pada 2023. Sebuah pencapaian historis.
Bahkan, di Kualifikasi Piala Dunia 2026, mimpi itu terasa begitu dekat. Timnas Indonesia hampir saja melangkah ke putaran final. Nasib kini tergantung pada dua laga krusial melawan Arab Saudi dan Irak di Oktober 2025 nanti. Menang di kedua laga itu, dan sejarah baru akan tercipta.
Jadi, dari kekalahan telak dan sindiran seorang Mourinho, kini muncul secercah harapan. Sepak bola Indonesia memang belum sampai di puncak, tapi setidaknya, ia sudah mulai mendaki dengan langkah yang lebih mantap.
Artikel Terkait
Delegasi AS Serbu Jakarta, Incar Pasar Agribisnis Indonesia
MilkLife Soccer Challenge Bandung Pecahkan Rekor, Timo: Ceweknya Juga Gila Bola!
Tabungan Motion Bonus: Buka Rekening Langsung Dapat 50 Ribu, Berkesempatan Raih Hadiah 3 Miliar
MNC Life Gandeng Ocean Dental, Sasar Pasien Klinik Gigi untuk Tingkatkan Literasi Asuransi