Inflasi 2026 Diprediksi Tembus Batas Atas BI di Awal Tahun

- Senin, 02 Februari 2026 | 07:20 WIB
Inflasi 2026 Diprediksi Tembus Batas Atas BI di Awal Tahun

Rendahnya inflasi di awal tahun itu, menurut analisis, bukan berarti tekanan harga hilang. Ini lebih karena permintaan domestik yang masih terbatas, sementara penyesuaian harga dari tahun sebelumnya masih berlanjut.

Peran pemerintah cukup kentara. Komponen harga yang diatur pemerintah nyatanya memberi andil besar pada deflasi Februari, dengan kontraksi hingga minus 9,02 persen. Pemicu utamanya? Diskon tarif listrik 50 persen yang berlaku di Januari dan Februari. Begitu diskon berakhir, inflasi di kelompok ini kembali positif.

Di sisi lain, inflasi harga bergejolak terutama dari bahan pangan menjadi sumber tekanan utama di paruh akhir 2025. Setelah periode tenang bahkan deflasi di Mei, inflasi kelompok ini melonjak drastis sejak Juli dan memuncak di 6,59 persen pada Oktober.

Lonjakan ini erat kaitannya dengan gangguan pasokan. Mulai dari faktor musiman, perubahan cuaca di Triwulan III, sampai menipisnya pasokan beras termasuk cadangan pemerintah. Bencana alam di sejumlah wilayah Sumatra memperparah keadaan, mengganggu distribusi dan mendongkrak biaya logistik.

Yang menarik, ada faktor tak terduga yang ikut bermain: emas. Peningkatan ketegangan global, sebagian dipicu oleh kebijakan perdagangan era Trump 2.0, mendorong banyak orang berlindung pada emas sebagai aset aman. Alhasil, harga emas global meroket sepanjang tahun dan dampaknya merembes ke inflasi inti.

Inflasi inti sendiri sempat mencapai puncaknya di April 2025 (2,50 persen), lalu mulai turun perlahan sejak Mei seiring dengan meredanya harga emas. Penurunan ini juga dipicu meredanya ketegangan tarif antara AS dan China.

Meski begitu, di bulan Desember 2025, perhiasan emas masih tercatat sebagai kontributor terbesar inflasi inti. Disusul oleh minyak goreng, sewa rumah, biaya pendidikan tinggi, dan kopi bubuk. Secara keseluruhan, inflasi inti tumbuh moderat dan konsisten di bawah inflasi umum. Ini menunjukkan tekanan harga tidak menyebar luas, tapi masih terpusat pada komponen tertentu.

Apa yang menahan inflasi inti agar tidak meledak? Ternyata, lemahnya permintaan domestik memegang peran kunci. Daya beli rumah tangga yang tidak merata, pertumbuhan upah riil yang terbatas, dan dominasi sektor informal di pasar tenaga, membuat pelaku usaha kesulitan menaikkan harga jual. Dalam kondisi permintaan yang lesu seperti itu, tekanan inflasi pun punya batas alaminya sendiri.


Halaman:

Komentar