Di tengah ruang diskusi Bursa Efek Indonesia, Jumat lalu, Andry Asmoro menyuarakan kegelisahannya. Kepala Ekonom Bank Mandiri itu bicara blak-blan. Menurutnya, pemerintah harus punya kebijakan konkret untuk mendongkrak industri manufaktur. Tanpa itu, target pertumbuhan bakal sulit dicapai.
“Hampir tidak mungkin kita akan mendorong pertumbuhan di sektor manufaktur tanpa kebijakan industrialisasi manufaktur dan juga perdagangan link kepada off-taker di luar negeri untuk menjadi eksportir segala macam,” ujar Andry dalam acara bertajuk Economic Insight 2026.
Ia mendesak agar kebijakan fiskal dan moneter dirancang ulang. Tujuannya jelas: mendukung arus perdagangan sektor ini. Stimulus ekonomi, lanjutnya, seharusnya diarahkan ke industri padat karya yang punya nilai ekspor-impor tinggi. Itu langkah yang lebih berdampak langsung.
Namun begitu, tantangannya tidak kecil. Andry mengingatkan bahwa industri manufaktur sangat terpengaruh situasi moneter, terutama nilai tukar.
Artikel Terkait
Harga Tembaga dan Emas Melonjak, Pemerintah Tetapkan Patokan Ekspor Baru
Antrean Ribuan Pelamar, Sektor Informal Melonjak: Apindo Soroti Bom Waktu Ketenagakerjaan
Lefundes Pasang Target Tiga Poin di Kandang Demi Kejar Persib
Duel Sengit di Indonesia Arena: Garuda Hadang Singa Mesopotamia untuk Puncak Grup