“Dalam beberapa tahun terakhir memang pressure-nya ke nilai tukar rupiah melemah terhadap US Dolar. Dan itu tentu saja buat importir ya, terutama untuk import to export, ya biaya untuk impornya juga semakin mahal, itu problem-nya,” jelasnya.
Di sisi lain, data justru menunjukkan kontribusi sektor ini masih sangat vital. Merujuk Kementerian Perindustrian, pada triwulan III-2025, sektor manufaktur menyumbang 17,39 persen terhadap PDB nasional. Angka itu menjadikan Industri Pengolahan Nonmigas sebagai penyumbang terbesar, mengalahkan sektor-sektor lain.
Jadi, di satu sisi kontribusinya besar. Di sisi lain, tekanannya nyata. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kebijakan ke depan bisa menjawab tantangan ini? Itu yang masih menunggu jawaban.
Artikel Terkait
Pemerintah Finalisasi Formasi dan Skema Rekrutmen ASN 2026
Pemerintah Kaji Formasi ASN 2026 dengan Mempertimbangkan Kemampuan Fiskal
Pemerintah Cairkan Bonus Atlet ASEAN Para Games 2025, Emas Perorangan Dapat Rp1 Miliar
Polres Tasikmalaya Siapkan Rest Area Terpadu dengan Klinik dan Wahana Anak untuk Pemudik