“Dalam beberapa tahun terakhir memang pressure-nya ke nilai tukar rupiah melemah terhadap US Dolar. Dan itu tentu saja buat importir ya, terutama untuk import to export, ya biaya untuk impornya juga semakin mahal, itu problem-nya,” jelasnya.
Di sisi lain, data justru menunjukkan kontribusi sektor ini masih sangat vital. Merujuk Kementerian Perindustrian, pada triwulan III-2025, sektor manufaktur menyumbang 17,39 persen terhadap PDB nasional. Angka itu menjadikan Industri Pengolahan Nonmigas sebagai penyumbang terbesar, mengalahkan sektor-sektor lain.
Jadi, di satu sisi kontribusinya besar. Di sisi lain, tekanannya nyata. Pertanyaannya sekarang, bagaimana kebijakan ke depan bisa menjawab tantangan ini? Itu yang masih menunggu jawaban.
Artikel Terkait
Harga Tembaga dan Emas Melonjak, Pemerintah Tetapkan Patokan Ekspor Baru
Antrean Ribuan Pelamar, Sektor Informal Melonjak: Apindo Soroti Bom Waktu Ketenagakerjaan
Lefundes Pasang Target Tiga Poin di Kandang Demi Kejar Persib
Duel Sengit di Indonesia Arena: Garuda Hadang Singa Mesopotamia untuk Puncak Grup