Di sisi lain, Hatami menegaskan bahwa mempertahankan keunggulan strategis adalah prioritas mutlak. Rencana pertahanan Iran, katanya, selalu mengacu pada satu prinsip.
“Kesiapan untuk operasi tempur cepat dan respons tegas terhadap segala bentuk agresi terus menjadi panduan perencanaan pertahanan Iran, sejalan dengan ancaman yang diantisipasi,” ucapnya.
Pernyataan ini punya konteks yang jelas. Ketegangan dengan AS memang sedang memuncak. Beberapa pekan terakhir, Presiden Donald Trump menyebut armada perang AS dalam jumlah besar bergerak mendekati Iran. Ancaman langsung dilayangkan: segera sepakati negosiasi nuklir, atau hadapi serangan dahsyat.
Tapi Iran tak tampak gentar. Respon dari para pejabatnya justru keras dan penuh peringatan. Setiap serangan dari AS, kata mereka, akan dibalas dengan cepat dan menyeluruh. Meski begitu, mereka juga menyisipkan pesan diplomatik. Pintu negosiasi tetap terbuka, asalkan syaratnya adil, seimbang, dan tanpa paksaan. Situasinya seperti bara dalam sekam, panas namun belum meledak.
Artikel Terkait
Perang Rusia-Ukraina: Korban Gabungan Tembus 1,8 Juta Jiwa, Terburuk Sejak PD II
BPDP Genjot Peremajaan Sawit Rakyat, Target 120 Ribu Hektare Per Tahun
Bupati Bekasi: Saya Baru Sembilan Bulan, Masih Belajar
Waspada Hoaks, Begini Cara Cek BSU 2026 Jika Nanti Resmi Dibuka