Di sisi lain, Hatami menegaskan bahwa mempertahankan keunggulan strategis adalah prioritas mutlak. Rencana pertahanan Iran, katanya, selalu mengacu pada satu prinsip.
“Kesiapan untuk operasi tempur cepat dan respons tegas terhadap segala bentuk agresi terus menjadi panduan perencanaan pertahanan Iran, sejalan dengan ancaman yang diantisipasi,” ucapnya.
Pernyataan ini punya konteks yang jelas. Ketegangan dengan AS memang sedang memuncak. Beberapa pekan terakhir, Presiden Donald Trump menyebut armada perang AS dalam jumlah besar bergerak mendekati Iran. Ancaman langsung dilayangkan: segera sepakati negosiasi nuklir, atau hadapi serangan dahsyat.
Tapi Iran tak tampak gentar. Respon dari para pejabatnya justru keras dan penuh peringatan. Setiap serangan dari AS, kata mereka, akan dibalas dengan cepat dan menyeluruh. Meski begitu, mereka juga menyisipkan pesan diplomatik. Pintu negosiasi tetap terbuka, asalkan syaratnya adil, seimbang, dan tanpa paksaan. Situasinya seperti bara dalam sekam, panas namun belum meledak.
Artikel Terkait
Arbeloa Bawa Mbappe dan Bellingham ke Manchester, City Hadapi Tugas Mustahil
Pemudik Rela Begadang Demi Tiket Kereta, Stasiun Jakarta Dipadati 54 Ribu Penumpang
Lonjakan 50% Pemudik di Terminal Kampung Rambutan, Terminal Lain di Jakarta Justru Sepi
Pemerintah Finalisasi Formasi dan Skema Rekrutmen ASN 2026