Modal minim. Itulah tantangan berat yang masih menghadang perbankan syariah di tanah air, menurut para pelaku industri. Daya saing mereka, mau tak mau, terpengaruh oleh kondisi ini.
Herbudhi S. Tomo, Executive Director Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo), mengungkapkan fakta yang cukup menohok. Mayoritas bank syariah kita masih berkutat di kelas kecil hingga menengah jika dilihat dari sisi permodalan. Bandingkan dengan raksasa-raksasa perbankan konvensional yang punya kantong lebih tebal dan jaringan luas. Jelas, ruang untuk berekspansi jadi lebih sempit.
“Struktur permodalan bank syariah saat ini masih didominasi KBMI 1 dan KBMI 2. Kondisi ini membuat kemampuan ekspansi pembiayaan dan pengembangan produk menjadi terbatas,” ujar Herbudhi di Philip Kotler Theater Class, Jakarta, Selasa lalu.
Dia melanjutkan, ketimpangan skala ini bikin persaingan terasa tak seimbang. Bagaimana mungkin bank dengan modal pas-pasan bisa mengejar lini bisnis baru yang butuh suntikan dana besar? Rasanya sulit.
“Untuk masuk ke bisnis-bisnis baru yang membutuhkan modal besar, bank syariah harus memiliki struktur permodalan yang lebih kuat. Tanpa itu, peluang pertumbuhan akan sulit dimanfaatkan secara optimal,” tegasnya.
Artikel Terkait
Penjualan Tiket My Chemical Romance di Jakarta Mendadak Ditunda, Promotor Minta Maaf
Geliat Ekspor Mobil: Jepang Masih Kuasai Pasar, China Masih Berjuang
Restorative Justice Akhiri Kisah Hogi, dari Pembelaan Istri ke Dua Nyawa Melayang
ATSI Buka Suara: Data Wajah Pelanggan Tak Disimpan Operator