Saus itu kemudian disaring, dipanaskan untuk menghentikan fermentasi, dan baru ditambahkan bumbu. Untuk kecap manis, tentu saja, gula merah jadi andalan.
Lalu, di mana letak masalah kehalalannya?
Proses yang panjang ini kerap mendorong produsen mengambil jalan pintas. Ada yang menambahkan perasa atau pewarna buatan sebelum fermentasi benar-benar tuntas. Lebih murah lagi, ada yang membuat kecap dari acid hydrolyzed vegetable protein, jauh dari proses fermentasi alami.
Di sisi lain, secara tradisional justru ada praktik lain yang perlu dicermati. Untuk memperkaya rasa dan aroma, beberapa pembuat kecap menambahkan sumsum tulang, kepala ayam, atau bahkan darah hewan.
Kalau bahan-bahan hewani itu jelas asalnya dari hewan halal dan disembelih sesuai syariat, sih, nggak masalah. Tapi bagaimana kalau asal-usulnya gelap? Inilah titik kritisnya. Konsumen biasa mana bisa tahu?
Makanya, kita harus lebih jeli. Jangan asal pilih hanya karena harganya murah. Kecap dengan rasa gurih atau aroma amis yang terlalu kuat dan ekstrem, patut diwaspadai. Bisa jadi ada tambahan bahan hewani yang kehalalannya dipertanyakan.
Jadi, kalau mau aman dan tenang, pilihan paling bijak adalah memilih produk kemasan yang sudah punya sertifikat halal jelas. Setidaknya, kita sudah berusaha mengurangi risikonya.
Artikel Terkait
Antrean Truk Logistik dan Pemudik Mulai Padati Pelabuhan Ciwandan Jelang Lebaran
Bali United Akui Inkonsistensi Usai Dibantai Persis Solo
Telkom dan Kemenkominfo Siagakan 13.200 Petugas Jaga Koneksi Ramadan-Lebaran
Gelombang Mudik Lebaran 2026 Mulai Meningkat di Terminal Pulo Gebang