Letaknya sungguh strategis. Terjepit di antara Laut Kaspia dan Teluk Persia, di persimpangan Eropa, Arab, dan Asia, Iran berdiri dengan segala ambisi dan sumber dayanya. Negeri ini punya cadangan minyak dan gas yang luar biasa banyak, ditambah program nuklir yang selalu jadi buah bibir. Tak heran, Iran kerap dilihat sebagai pemain kunci di panggung Timur Tengah.
Namun belakangan, situasinya memanas. Selama dua pekan terakhir, gelombang demonstrasi mengguncang negara berpenduduk 93 juta jiwa itu. Awalnya cuma soal ekonomi yang morat-marit, tapi sekarang sudah berubah jadi perlawanan terbuka terhadap rezim Republik Islam di Teheran. Pemerintah punya narasi sendiri: mereka menuding ada tangan-tangan asing terutama Amerika Serikat dan Israel yang menyusup dan memanaskan situasi, mencoba memicu revolusi.
Yang agak ironis, di tengah gejolak dalam negeri, para elite justru terlihat lebih siap berunding dengan AS ketimbang berdialog dengan rakyatnya sendiri. Presiden AS Donald Trump bahkan menyebut, pada 11 Januari lalu, bahwa Teheran siap membuka putaran baru perundingan nuklir dengan Washington.
Hubungan kedua negara ini memang sudah rusak sejak lama. Puncaknya, Revolusi Islam 1979 dan pendudukan Kedutaan Besar AS di Teheran. Sejak itu, yang ada cuma permusuhan ideologis, sanksi ekonomi yang silih berganti, konflik bersenjata terselubung, dan tentu saja, sengketa nuklir yang tak kunjung usai.
"Saya kira mereka sudah lelah terus dipecundangi Amerika Serikat," kata Trump kepada para wartawan di dalam pesawat Air Force One.
Dia menambahkan, pemerintahannya sedang membahas kemungkinan pertemuan dengan pihak Iran.
Inti tuntutan Washington jelas: penghentian total pengayaan uranium. Barat menuduh Iran diam-diam mengembangkan senjata nuklir tuduhan yang selalu dibantah Teheran. Meski begitu, belakangan Iran mengakui telah memperkaya uranium hingga level 60 persen. Isu inilah yang tetap jadi sumber perseteruan paling besar dengan Barat.
Bisa Jadi Pemicu Perang?
Trump sendiri beberapa hari terakhir terus mengeluarkan ancaman. Dia bilang akan melancarkan serangan militer jika aparat keamanan Iran bertindak brutal terhadap demonstran. Tapi, seberapa parah penindasan itu terjadi? Sulit dipastikan. Sejak 9 Januari, akses internet dan komunikasi dengan dunia luar nyaris diputus total.
Televisi pemerintah Iran, yang menyebut para demonstran sebagai teroris, menayangkan gambar-gambar kamar jenazah penuh korban tewas. Peringatan juga disampaikan kepada orang tua: jangan biarkan anak-anak mereka ikut aksi yang disebut-sebut dipimpin kelompok teroris itu.
Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan mereka ingin damai, tapi siap siaga menghadapi intervensi militer asing. Menurut analis Iran, Fatemeh Aman, perdebatan soal ancaman Trump atau kemungkinan serangan Israel ini sebenarnya lebih berkaitan dengan dampaknya terhadap struktur kekuasaan di dalam negeri Iran.
"Tekanan eksternal tidak selalu melemahkan rezim," kata Aman. "Bahkan, seringkali justru memperkuatnya. Di Iran, risikonya sangat tinggi."
Artikel Terkait
Ammar Zoni Tampil Beda dengan Kemeja Krem dan Tasbih di Sidang Narkoba
Panen Raya di Balik Jeruji: Lapas Cirebon Sumbang 7 Ton Padi untuk Ketahanan Pangan
Evakuasi Jenazah Pendaki di Gunung Slamet Dilakukan Bertahap, Cuaca Buruk Sempat Jadi Kendala
Wapres Gibran Turun Langsung, Tinjau Pembangunan dari Biak hingga Wamena