Selain pajak, sumber penerimaan lain juga tak kalah bagus. Penerimaan dari kepabeanan dan cukai malah melampaui target, tembus Rp28,52 triliun atau 100,7 persen dari yang diharapkan. Sektor cukai mendominasi di sini. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) pun perkasa, realisasinya Rp8,12 triliun atau melampaui target hingga 146,64 persen.
Lalu, kemana uangnya dibelanjakan? Fokusnya jelas: pelayanan publik dan pembangunan daerah. Belanja K/L menyerap Rp43,22 triliun, sementara penyaluran Transfer ke Daerah (TKD) mencapai Rp76,01 triliun. Berbagai program prioritas nasional tetap berjalan.
Program Makan Bergizi Gratis, contohnya, sudah menjangkau lebih dari 11 juta penerima manfaat. Dukungan perumahan lewat FLPP menyentuh sekitar 62 ribu unit. Penyaluran KUR juga masif, Rp28,61 triliun untuk lebih dari 500 ribu debitur.
Di tengah segala ketidakpastian global, perekonomian Jawa Barat ternyata tetap tumbuh solid. Pada triwulan III 2025, ekonominya bertumbuh sekitar 5,2 persen secara tahunan. Inflasi pun relatif terkendali, berada di level 2,63 persen. Kinerja perdagangan bahkan mencatatkan surplus, jadi indikator bagus untuk daya saing daerah.
Pada akhirnya, APBN memang masih memainkan peran sentral. Fungsinya sebagai penjaga stabilitas ekonomi dan pelindung daya beli masyarakat tetap krusial. Dengan pengelolaan yang hati-hati dan responsif, keberlanjutan fiskal dan pertumbuhan ekonomi Jawa Barat ke depan diharapkan bisa tetap terjaga.
Artikel Terkait
Bakoel Bamboe Ekspansi ke IKN dan Kalimantan, Siapkan IPO
Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Ditingkatkan ke Tahap Penyidikan
Arus Mudik Lebaran 2026 Sudah Bergerak, Puncak Diprediksi 18 Maret
KPK Tetapkan Bupati Cilacap Tersangka Kasus Pemerasan Dana THR