JAKARTA – Bayangkan seorang anak yang lahir dan besar di Planet Mars. Itulah inti dari "Pelangi di Mars", film fiksi ilmiah keluarga yang punya misi cukup ambisius: mendorong anak-anak Indonesia untuk berani bermimpi lebih besar lagi. Film ini dijadwalkan tayang pada 18 Maret 2026, bertepatan dengan momen libur Idulfitri.
Disutradarai oleh Upie Guava dan diproduksi Mahakarya Pictures, film ini mengambil latar tahun 2090. Menariknya, ini menjadi debut penyutradaraan film panjang bagi Upie, yang sebelumnya lebih dikenal lewat karya dokumenter dan video musik.
Dari segi produksi, mereka main serius. Teknologi Extended Reality (XR) dipakai dengan metode hybrid, memadukan pengambilan gambar nyata dan lingkungan virtual 3D. Proses risetnya sendiri sudah dimulai sejak awal 2020. Dendi Reynando, produser film ini, bahkan menyebutnya sebagai produksi dengan anggaran terbesar dalam sejarah Mahakarya Pictures.
Naskahnya ditulis oleh Upie Guava bersama Alim Sudio. Yang cukup menyentuh, karakter utama bernama Pratiwi dalam film ini terinspirasi dari sosok nyata, ilmuwan Indonesia Pratiwi Sudarmono, yang pernah terpilih sebagai calon antariksawan NASA pada 1985 silam.
Bangun Generasi Pemimpi
Di balik proyek besar ini, ada kegelisahan yang mendasar. Ide pembuatan "Pelangi di Mars" ternyata berawal dari keresahan sang produser, Dendi Reynando, yang melihat minimnya film keluarga di Indonesia.
Artikel Terkait
Pelangi di Mars Rampung Setelah Lima Tahun, Tim Belajar Teknologi XR dari Nol
CAPD, Terapi Gagal Ginjal yang Lebih Fleksibel, Masih Minim Dikenal Pasien
LPDP Sesuaikan Besaran Tunjangan Hidup dengan Biaya Hidup Negara Tujuan
Atta Halilintar Ungkap Derita Eksim yang Membuatnya Takut Sinar Matahari