Pelangi di Mars, Film Fiksi Ilmiah Indonesia untuk Anak, Tayang Lebaran 2026

- Sabtu, 14 Maret 2026 | 23:20 WIB
Pelangi di Mars, Film Fiksi Ilmiah Indonesia untuk Anak, Tayang Lebaran 2026

JAKARTA – Bayangkan seorang anak yang lahir dan besar di Planet Mars. Itulah inti dari "Pelangi di Mars", film fiksi ilmiah keluarga yang punya misi cukup ambisius: mendorong anak-anak Indonesia untuk berani bermimpi lebih besar lagi. Film ini dijadwalkan tayang pada 18 Maret 2026, bertepatan dengan momen libur Idulfitri.

Disutradarai oleh Upie Guava dan diproduksi Mahakarya Pictures, film ini mengambil latar tahun 2090. Menariknya, ini menjadi debut penyutradaraan film panjang bagi Upie, yang sebelumnya lebih dikenal lewat karya dokumenter dan video musik.

Dari segi produksi, mereka main serius. Teknologi Extended Reality (XR) dipakai dengan metode hybrid, memadukan pengambilan gambar nyata dan lingkungan virtual 3D. Proses risetnya sendiri sudah dimulai sejak awal 2020. Dendi Reynando, produser film ini, bahkan menyebutnya sebagai produksi dengan anggaran terbesar dalam sejarah Mahakarya Pictures.

Naskahnya ditulis oleh Upie Guava bersama Alim Sudio. Yang cukup menyentuh, karakter utama bernama Pratiwi dalam film ini terinspirasi dari sosok nyata, ilmuwan Indonesia Pratiwi Sudarmono, yang pernah terpilih sebagai calon antariksawan NASA pada 1985 silam.

Bangun Generasi Pemimpi

Di balik proyek besar ini, ada kegelisahan yang mendasar. Ide pembuatan "Pelangi di Mars" ternyata berawal dari keresahan sang produser, Dendi Reynando, yang melihat minimnya film keluarga di Indonesia.

“Sejak tahun 2020, saya punya kegelisahan film anak dan keluarga sangat kurang di Indonesia. Saya punya tiga anak, setiap mengajak ke bioskop untuk menonton film Indonesia hampir tidak ada,” kata Dendi dalam Gala Premiere film tersebut di Jakarta, Sabtu (14/3/2026).

Dia juga mengamati, hampir semua produk hiburan untuk anak yang beredar berasal dari luar negeri.

“Ketika ke toko mainan, hampir semuanya produk dari luar. Ada Marvel, anime dari Jepang, dari Korea. Dari situ kami mulai membicarakan ide Pelangi di Mars,” ujarnya.

Misi serupa diungkapkan sutradara Upie Guava. Dia merasa generasinya dulu tumbuh dengan beruntung, disuguhi cerita-cerita yang memicu imajinasi dan rasa ingin tahu yang besar.

“Saya punya anak kecil. Kami merasa dulu tumbuh di zaman yang cukup beruntung. Kami tumbuh dengan film seperti Star Wars, Back to the Future, Jurassic Park, komik Tintin, dan cerita petualangan yang membuat kami ingin cepat dewasa,” kenang Upie.

Menurutnya, karya-karya itulah yang mendorong banyak anak punya cita-cita tinggi; ingin jadi arkeolog, wartawan, detektif, atau astronot. Namun begitu, dia melihat kondisi sekarang berbeda. Anak-anak lebih banyak disibukkan oleh layar ponsel mereka sendiri.

Padahal, bagi Upie, mimpi anak-anak itu sangat penting. Itu fondasi bagi masa depan sebuah bangsa.

“Saya percaya bangsa besar terbentuk dari mimpi anak-anaknya. Saat secara kolektif anak-anak Indonesia memiliki harapan menaklukkan dunia, hal itu bisa menjadi kenyataan 30 tahun kemudian,” tegasnya.

Lewat "Pelangi di Mars", harapannya sederhana namun mendalam: memberi inspirasi agar anak-anak Indonesia kembali memiliki mimpi besar tentang masa depan mereka. Sebuah film fiksi ilmiah yang rupanya dibangun dari harapan yang sangat nyata.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar