Namun begitu, operasi ini meninggalkan jejak kelam. Korban jiwa dilaporkan mencapai sekitar 100 orang. Bukan cuma tentara. Puluhan pengawal Maduro yang disebut sebagai tentara bayaran asal Kuba tewas dalam insiden itu. Sayangnya, warga sipil juga jadi korban.
Merespons hal ini, Menteri Pertahanan Venezuela Vladimir Padrino Lopez tak tinggal diam. Dia menyebut aksi AS sebagai penculikan yang pengecut.
"Angkatan bersenjata nasional Bolivarian dengan tegas menolak penculikan pengecut terhadap Nicolas Maduro Moros, penduduk konstitusional Republik Bolivarian Venezuela dan Panglima Tertinggi kami, serta istrinya, Ibu Negara Cilia Flores de Maduro," tegas Lopez.
Dia menggambarkan situasi yang jauh dari gambaran bersih Trump. Menurutnya, serangan itu adalah kejahatan brutal. Pasukan keamanan, personel militer, dan warga sipil yang tak bersalah dibunuh dengan kejam. Bahkan, sejumlah staf kepresidenan berstatus sipil menjadi target.
Klaim Trump soal senjata canggih dan bantahan keras dari Venezuela ini memperlihatkan dua sisi cerita yang bertolak belakang. Satu sisi bicara teknologi mutakhir, sisi lain menceritakan tragedi kemanusiaan.
Artikel Terkait
Kekalahan Dramatis Liverpool Picu Badai Tekanan untuk Arne Slot
Mbappe Bungkam El Madrigal, Madrid Rebut Puncak Klasemen
Antrean Panjang Jaecoo J5: 3.000 Unit Terserahkan, Kualitas Tetap Jadi Prioritas
Indef Soroti Tekanan Pasar, Harga Batu Bara Diproyeksi Terus Anjlok