“Penelitian berfungsi sebagai penggerak aktivitas utama dalam upaya AI kita,” tambahnya. “Ini untuk memajukan kemampuan teknis mendalam bangsa dan memastikan Singapura tetap berada di garis depan inovasi AI.”
Fenomena ini sebenarnya bukan cuma terjadi di Singapura. Banyak negara lain juga kalang kabut, berusaha agar tak tertinggal dalam lomba AI ini. Mereka ingin industri dan pekerja lokalnya tetap relevan.
Lihat saja Korea Selatan yang mensponsori turnamen-turnamen AI. Atau, ambil contoh Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Dengan modal yang melimpah, kedua negara Timur Tengah itu fokus membangun infrastruktur komputasi super canggih dan mendanai pengembangan model AI domestik, seperti Falcon.
Namun begitu, gelombangnya ternyata lebih luas lagi. Jepang, Kanada, dan India juga disebut-sebut sedang merancang strategi dan mengasah kemampuan AI mereka sendiri. Perlombaan ini terasa semakin panas, dan setiap negara mencari celah untuk unggul.
Dengan investasi triliunan rupiah ini, Singapura jelas sedang memasang strategi jangka panjang. Mereka tak mau cuma jadi penonton, tapi aktif membentuk masa depan teknologi di kawasan Asia Tenggara, bahkan dunia.
Artikel Terkait
Antrean Panjang Jaecoo J5: 3.000 Unit Terserahkan, Kualitas Tetap Jadi Prioritas
Indef Soroti Tekanan Pasar, Harga Batu Bara Diproyeksi Terus Anjlok
Meta Cabut Sementara Fitur Karakter AI untuk Remaja di Facebook dan Instagram
Pejabat AS Soroti Maraknya Penipuan Online dalam Pertemuan Anti-Perbudakan di Jakarta