Keyakinan Konsumen Indonesia Melemah, Masyarakat Pilih Perkuat Tabungan

- Rabu, 11 Maret 2026 | 10:30 WIB
Keyakinan Konsumen Indonesia Melemah, Masyarakat Pilih Perkuat Tabungan

Keyakinan konsumen Indonesia sedikit melemah di bulan Februari. Data terbaru menunjukkan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) menyentuh angka 125,2, turun 1,8 poin dari posisi Januari yang 127,0. Penurunan ini, menurut catatan, terutama dipicu oleh melemahnya ekspektasi masyarakat. Indikator-indikator di bawah payung Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) semuanya berwarna merah.

Novani Karina Saputri, Research Analyst di PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia, memberikan penjelasan lebih rinci. Menurutnya, penurunan paling tajam justru terjadi pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran rendah, yakni antara satu hingga dua juta rupiah per bulan.

"Kelompok ini mengalami penurunan optimisme yang cukup signifikan, mencapai 14,4 poin," ujarnya.

Angka itu, lanjut Novani, menunjukkan kekhawatiran yang kian mendalam di kalangan tersebut soal stabilitas pendapatan dan peluang kerja ke depan. Situasinya memang agak paradoks. Di satu sisi, indeks pendapatan saat ini justru naik tipis 1,3 poin ke level 125. Namun, kenaikan itu rupanya tidak serta-merta mendorong orang untuk jor-joran belanja.

"Survei kami menunjukkan konsumen cenderung semakin berhati-hati. Peningkatan pendapatan tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi konsumsi," tegas Novani.

Hal itu terlihat dari angka-angka yang ada. Rasio kecenderungan konsumsi rata-rata (average propensity to consume) turun jadi 71,6%, dari sebelumnya 72,3%. Rasio cicilan utang terhadap pendapatan juga menyusut. Di sisi lain, rasio tabungan terhadap pendapatan justru naik dari 16,5% menjadi 17,7%. Artinya, banyak rumah tangga memilih memperkuat 'bantalan' keuangannya di tengah situasi yang dirasa belum pasti.

Bayang-bayang Inflasi

Lalu, apa yang bikin masyarakat jadi lebih hati-hati? Tekanan inflasi tampaknya menjadi salah satu faktor kuncinya. Inflasi tahunan tercatat berkisar di 4,76%, didorong oleh kenaikan harga-harga mulai dari pangan, energi rumah tangga, listrik, sampai kebutuhan perawatan diri. Efeknya jelas terasa di kantong.

Tekanan ini pun membentuk ulang perilaku keuangan. Sejak awal tahun, ada kecenderungan menarik dana dari tabungan atau deposito untuk dialihkan ke aset-aset yang dianggap aman, seperti emas dan perhiasan. Pilihan ini mencerminkan preferensi yang kuat terhadap aset defensif ketika ketidakpastian masih tinggi.

Meski ada pelemahan, ada sisi positif yang perlu dicatat. Posisi IKK yang masih jauh di atas level 100 menunjukkan sentimen konsumen Indonesia secara fundamental tetap kokoh. Hanya saja, melemahnya ekspektasi ini tidak bisa dianggap sepele. Konsumsi rumah tangga, bagaimanapun, adalah penopang utama perekonomian kita, menyumbang lebih dari separuh Produk Domestik Bruto.

Untuk itu, Novani menekankan pentingnya langkah-langkah kebijakan yang tepat sasaran.

"Prioritas harus difokuskan pada pengendalian inflasi, terutama untuk pangan dan energi. Menstabilkan harga bahan pokok jelang Lebaran dan mendukung penciptaan lapangan kerja adalah kunci," paparnya.

Jika kedua hal itu berhasil diatasi, optimisme konsumen diprediksi bisa pulih. Pada akhirnya, daya beli masyarakat yang kuat akan tetap menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar