Di tengah hiruk-pikuk World Economic Forum di Davos, sebuah program dari Indonesia justru menarik perhatian. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut-sebut sebagai contoh nyata bagaimana kebijakan ketahanan pangan dan perlindungan sosial bisa berjalan beriringan. Bahkan, program ini dinilai berhasil menjembatani petani kecil dengan pasar, sekaligus menjaga gizi anak-anak di era perubahan iklim.
Pembahasan itu mengemuka dalam sebuah panel diskusi di Paviliun Indonesia, Kamis lalu. Tema yang diangkat cukup berat: 'Food Security: Indonesia’s Strategy for Climate-Resilient Food Systems'. Tapi, intinya jelas: bagaimana caranya bertahan di tengah iklim yang makin tak menentu.
Dalam kesempatan itu, perwakilan BKPM menegaskan komitmen Indonesia. Fokusnya adalah membangun sistem pangan yang benar-benar tangguh. Caranya? Dengan mendorong pertanian berkelanjutan, memperkuat rantai pasok, dan tentu saja, memanfaatkan inovasi teknologi sebaik-baiknya.
Nah, komitmen itu mendapat apresiasi dari pihak internasional. Rania Dagash-Kamara dari World Food Programme (WFP) menyebut Indonesia punya kepemimpinan yang kuat dalam hal ini.
Begitu ujarnya dalam keterangan resmi yang dirilis Sabtu (24/1/2026).
Dari sisi teknologi, pendapat serupa datang dari CEO ClimateAi, Himanshu Gupta. Menurutnya, modal Indonesia sudah bagus swasembada beras di sebagian besar tahun adalah prestasi yang tak kecil. Hanya saja, ke depannya, pendekatan yang sistemik dan mengandalkan data akan jadi kunci utama. Terutama untuk menghadapi dinamika global yang makin kompleks.
Artikel Terkait
Gejolak Harga Minyak Ancam BBM, Pengemudi Ojol Beralih Listrik Justru Tenang
Lima Kapal Diserang dalam Dua Hari, Keamanan Jalur Vital Teluk Makin Terancam
Prabowo Serukan Penghentian Aksi Militer ke MBS, Siap Jadi Mediator
Kemkomdigi Perketat Patroli Siber untuk Tangkal Penipuan Mudik dan Hoaks Jelang Lebaran