Program Makan Bergizi Indonesia Jadi Sorotan di Forum Ekonomi Davos

- Sabtu, 24 Januari 2026 | 19:15 WIB
Program Makan Bergizi Indonesia Jadi Sorotan di Forum Ekonomi Davos

Di tengah hiruk-pikuk World Economic Forum di Davos, sebuah program dari Indonesia justru menarik perhatian. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut-sebut sebagai contoh nyata bagaimana kebijakan ketahanan pangan dan perlindungan sosial bisa berjalan beriringan. Bahkan, program ini dinilai berhasil menjembatani petani kecil dengan pasar, sekaligus menjaga gizi anak-anak di era perubahan iklim.

Pembahasan itu mengemuka dalam sebuah panel diskusi di Paviliun Indonesia, Kamis lalu. Tema yang diangkat cukup berat: 'Food Security: Indonesia’s Strategy for Climate-Resilient Food Systems'. Tapi, intinya jelas: bagaimana caranya bertahan di tengah iklim yang makin tak menentu.

Dalam kesempatan itu, perwakilan BKPM menegaskan komitmen Indonesia. Fokusnya adalah membangun sistem pangan yang benar-benar tangguh. Caranya? Dengan mendorong pertanian berkelanjutan, memperkuat rantai pasok, dan tentu saja, memanfaatkan inovasi teknologi sebaik-baiknya.

Nah, komitmen itu mendapat apresiasi dari pihak internasional. Rania Dagash-Kamara dari World Food Programme (WFP) menyebut Indonesia punya kepemimpinan yang kuat dalam hal ini.

"Indonesia menunjukkan bahwa ketahanan pangan yang tangguh terhadap iklim membutuhkan kepemimpinan pemerintah yang kuat, sistem perlindungan sosial yang responsif, serta keberanian untuk bertindak sebelum krisis terjadi. Tidak banyak negara yang mampu melakukan ini secara terpadu, dan Indonesia adalah salah satunya,"

Begitu ujarnya dalam keterangan resmi yang dirilis Sabtu (24/1/2026).

Dari sisi teknologi, pendapat serupa datang dari CEO ClimateAi, Himanshu Gupta. Menurutnya, modal Indonesia sudah bagus swasembada beras di sebagian besar tahun adalah prestasi yang tak kecil. Hanya saja, ke depannya, pendekatan yang sistemik dan mengandalkan data akan jadi kunci utama. Terutama untuk menghadapi dinamika global yang makin kompleks.

Di sisi lain, investasi teknologi juga ditekankan oleh Jai Shroff, pimpinan UPL. Peluang Indonesia untuk berinovasi di sektor pertanian dinilainya sangat besar.

"Banyak masyarakat yang terlibat langsung dalam pertanian, dan dengan teknologi yang tepat, perubahan besar sangat mungkin terjadi,"

kata Shroff.

Tapi, semua kemajuan teknologi itu harus bisa dirasakan oleh orang kecil. Ini yang ditekankan Ana Carolina Zimmerman, seorang petani dari Brasil. Baginya, penguatan institusi dan kolaborasi internasional sangat krusial. Tujuannya agar inovasi tidak hanya dinikmati segelintir pihak.

"Indonesia dan banyak negara lain menghadapi tantangan ketimpangan yang serupa. Pelajaran utamanya adalah memastikan inovasi dan teknologi pertanian dapat diakses oleh semua, bukan hanya sebagian,"

ucapnya.

Jadi, meski pujian mengalir dari forum bergengsi di Davos, tantangan di lapangan tetap nyata. Program MBG mungkin sudah memberi contoh yang baik. Tapi, jalan untuk membangun sistem pangan yang benar-benar resilien masih panjang. Dan itu butuh kerja sama semua pihak.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar