Di sisi lain, ada pula Bibit Siklon Tropis 92P yang sedang aktif. Namun, posisinya berada di daratan Australia, jauh di sebelah timur Teluk Carpentaria. Karena lokasinya yang jauh itu, TCWC Jakarta menyatakan bibit siklon ini berada di luar wilayah pantauan mereka. Yang jelas, 92P dipastikan tidak akan mempengaruhi kondisi cuaca di tanah air.
Nah, selain hujan, ancaman lain yang perlu diantisipasi adalah angin kencang. Beberapa wilayah yang berpotensi terdampak meliputi Jawa Tengah bagian timur, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan tentu saja Nusa Tenggara Timur. Warga di daerah-daerah ini sebaiknya bersiap.
Dampak yang paling signifikan mungkin justru terjadi di laut. BMKG mengeluarkan peringatan gelombang tinggi yang dibagi dalam tiga level. Yang paling ekstrem, dengan ketinggian 4 hingga 6 meter, diprediksi terjadi di Samudra Hindia selatan NTT. Situasinya sangat berbahaya untuk pelayaran.
Untuk level tinggi (2.5 - 4 meter), wilayahnya lebih luas. Mulai dari perairan selatan Bali hingga NTT, Laut Sawu, sampai Samudra Hindia selatan Jawa Barat hingga NTB. Sementara untuk gelombang kategori sedang, cakupannya menjangkau perairan selatan Jawa, Laut Jawa bagian timur, Laut Bali, Laut Sumbawa, Laut Flores, serta sejumlah selat di NTT dan NTB.
Intinya, meski siklonnya menjauh, efek riaknya masih besar. Masyarakat, terutama yang tinggal di pesisir dan daerah rawan hujan, dituntut untuk tetap siaga.
Artikel Terkait
Menlu Tegaskan Dewan Perdamaian Dunia Bukan Pengganti PBB
Gubernur Pramono Tambah Pompa dan Bantu Perlengkapan untuk Pengungsi Banjir Rawa Buaya
BMKG: Cuaca Ekstrem Berpotensi Landa Indonesia Hingga Akhir Januari
Shopee Super Awards 2025: Labbaik Chicken hingga SeIndonesia Jadi Sorotan