Di sisi lain, BI tak hanya fokus pada instrumen moneter biasa. Mereka juga aktif membeli Surat Berharga Negara (SBN) sebagai bentuk sinergi dengan pemerintah. Angkanya tidak main-main, mencapai Rp23,69 triliun per 20 Januari 2026. Dari jumlah itu, sekitar Rp13,21 triliun di antaranya dibeli di pasar sekunder.
Menurut Perry, pembelian di pasar sekunder ini punya aturan main yang jelas. Dilakukan sesuai mekanisme pasar, terukur, dan transparan. Tujuannya untuk menjaga kredibilitas kebijakan sekaligus mendukung stabilitas ekonomi secara keseluruhan.
Ke depan, upaya stabilisasi Rupiah akan semakin digenjot. Caranya dengan intervensi di dua front: pasar off-shore lewat Non-Deliverable Forward (NDF) dan pasar domestik melalui spot, Domestic NDF, serta tentu saja, pembelian SBN tadi. Semua langkah ini diharapkan bisa menjaga momentum perekonomian di tengah ketidakpastian global yang masih membayang.
Artikel Terkait
Ki Bandung dan Kunci Kuningan yang Menjaga Ingatan di Imogiri
Gempa Magnitudo 5,4 Guncang Boalemo, BMKG Pastikan Tak Berpotensi Tsunami
Yamaha Lepas Inline-Four, V4 Biru Monster Resmi Mengaum di Jakarta
Pemerintah Cabut HGU 85 Ribu Hektare di Lampung, Tanah Milik TNI AU Diserobot Pabrik Gula