SRBI Menyusut Rp222 Triliun, BI Genjot Stabilisasi Rupiah dengan Beli SBN

- Kamis, 22 Januari 2026 | 04:40 WIB
SRBI Menyusut Rp222 Triliun, BI Genjot Stabilisasi Rupiah dengan Beli SBN

Posisi Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terus menyusut. Catatan terbaru per 20 Januari 2026 menunjukkan angka itu ada di level Rp694,04 triliun. Padahal, di awal tahun sebelumnya, posisinya masih berkisar Rp916,97 triliun. Penurunan cukup signifikan ini terjadi dalam rentang waktu yang relatif singkat.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan langkah-langkah yang diambil bank sentral. "Kebijakan moneter ditempuh melalui penurunan suku bunga BI-Rate, stabilisasi nilai tukar Rupiah, dan ekspansi likuiditas moneter," ujarnya dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur, Rabu lalu.

Nah, soal suku bunga, pergerakannya cukup menarik. Sejak September 2024, BI-Rate sudah turun total 150 basis poin. Penurunan bertahap itu akhirnya membawa tingkat suku bunga acuan ke 4,75 persen di penghujung 2025. Perry menyebut level ini sebagai yang terendah sejak 2022.

Di sisi lain, BI tak hanya fokus pada instrumen moneter biasa. Mereka juga aktif membeli Surat Berharga Negara (SBN) sebagai bentuk sinergi dengan pemerintah. Angkanya tidak main-main, mencapai Rp23,69 triliun per 20 Januari 2026. Dari jumlah itu, sekitar Rp13,21 triliun di antaranya dibeli di pasar sekunder.

Menurut Perry, pembelian di pasar sekunder ini punya aturan main yang jelas. Dilakukan sesuai mekanisme pasar, terukur, dan transparan. Tujuannya untuk menjaga kredibilitas kebijakan sekaligus mendukung stabilitas ekonomi secara keseluruhan.

Ke depan, upaya stabilisasi Rupiah akan semakin digenjot. Caranya dengan intervensi di dua front: pasar off-shore lewat Non-Deliverable Forward (NDF) dan pasar domestik melalui spot, Domestic NDF, serta tentu saja, pembelian SBN tadi. Semua langkah ini diharapkan bisa menjaga momentum perekonomian di tengah ketidakpastian global yang masih membayang.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar