Perry menambahkan konteks global lainnya, “Seperti tadi kami sampaikan faktor-faktor global itu terkait tentu saja kondisi global, baik karena geopolitik, kemudian juga kebijakan tarif Amerika, tapi juga tingginya US Treasury yield baik 2 tahun sama 3 tahun, juga lebih rendahnya bahkan kemungkinan Fed Fund Rate turun yang lebih kecil.”
Lalu, apa yang dilakukan BI? Untuk menjaga stabilitas, bank sentral mengambil langkah stabilisasi. Intervensi dilakukan, baik di pasar non-deliverable forward (NDF) lepas pantai maupun di dalam negeri (DNDF), tak lupa juga di pasar spot. Upaya ini dinilai mampu mengendalikan volatilitas rupiah, sekaligus tetap sejalan dengan target inflasi tahun 2026 di kisaran 2,5±1 persen.
Ke depannya, komitmen BI untuk menjaga rupiah tetap kuat. Mereka akan terus melakukan intervensi secara terukur di berbagai pasar valas dan memperkuat strategi operasi moneternya yang pro-pasar.
Prospeknya sendiri sebenarnya masih cukup cerah. Perry memprakirakan rupiah akan stabil dan cenderung menguat. Dukungannya datang dari imbal hasil yang menarik, inflasi yang terkendali, dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tetap baik.
“Kami akan jaga stabilitas nilai tukar rupiah dan akan membawanya untuk menguat. Didukung oleh komisi fundamental ekonomi kita yang baik termasuk imbal hasil yang menarik, inflasi yang rendah, demikian juga prospek ekonomi yang membaik,” tegasnya.
(Febrina Ratna Iskana)
Artikel Terkait
Modal Hijau Global Tersendat di Lapangan, BRI Soroti Peran Krusial Bank Lokal
Kejagung Geledah Money Changer, Lacak Aliran Dana Korupsi Ekspor Limbah Sawit
Misteri Kematian Penumpang Perempuan di Peron Stasiun Gondangdia
Personel TNI-Polri untuk Haji 2025 Melonjak Dua Kali Lipat