Badan Gizi Nasional (BGN) baru saja mengencangkan aturan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Intinya, siswa kini tak boleh lagi membawa pulang makanan dari program itu ke rumah. Aturan ketat ini muncul sebagai respons atas temuan-temuan risiko keamanan pangan di lapangan yang dinilai perlu segera diantisipasi.
Menurut Nanik Sudaryati Deyang, Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, semua Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sekarang harus punya perjanjian tertulis dengan sekolah penerima MBG. Perjanjian itu mengatur segalanya, mulai dari cara distribusi, waktu makan, sampai pembagian tanggung jawab.
“Makanan ini harus dikonsumsi sesuai waktu terbaiknya dan tidak boleh dibawa pulang. Kalau datang jam tujuh, terakhir dikonsumsi jam sekian sesuai label,”
tegas Nanik, seperti dikutip dari laporan media pada 27 Januari 2026.
Di sisi lain, peran masing-masing pihak pun dibuat lebih jelas. SPPG bertugas memastikan produksi dan distribusi makanan tepat waktu dan memenuhi standar. Sementara sekolah, lewat guru atau staf, wajib mengawasi pembagian dan memastikan makanan habis dikonsumsi siswa dalam jangka waktu yang sudah ditetapkan. Intinya, makan di tempat, selesai.
Selain larangan membawa pulang, ada aturan baru lain yang cukup detail. Setiap wadah MBG harus dilengkapi label yang menunjukkan batas waktu konsumsi terbaik. Tujuannya jelas: memberi tahu kapan makanan itu masih layak dimakan, untuk memangkas risiko keracunan atau masalah kesehatan lain. Langkah sederhana, tapi dampaknya bisa besar.
Pengawasan di sekolah juga akan lebih ketat. BGN mendorong pihak sekolah untuk rutin mengingatkan siswa lewat pengumuman, agar MBG dikonsumsi di sekolah dan tidak disimpan untuk dibawa pulang. Memang terdengar sepele, tapi menurut BGN, ini langkah krusial untuk menjaga program tetap berjalan lancar dan aman.
Nanik menekankan, kebijakan ini sama sekali bukan untuk mengurangi hak anak. Justru sebaliknya, ini bentuk perlindungan. Program MBG dirancang untuk memenuhi kebutuhan gizi anak dengan cara yang aman dan terkontrol. Kalau dibawa pulang, ada banyak faktor di luar kendali yang bisa membahayakan.
Program Makan Bergizi Gratis sendiri adalah program strategis nasional yang menyasar pelajar di berbagai daerah. Targetnya mulia: meningkatkan status gizi, mendukung konsentrasi belajar, dan turut menekan angka stunting. Dengan aturan baru ini, BGN berharap pelaksanaannya lebih tertib dan bertanggung jawab.
Kunci utamanya ada pada sinergi antara penyedia makanan dan sekolah. Kalau kedua pihak kompak, manfaat program ini bisa benar-benar dirasakan siswa tanpa ada efek samping yang merugikan. BGN juga menyatakan akan terus melakukan evaluasi. Tegasnya, jika ada pelanggaran terhadap kesepakatan, sanksi menanti. Semua demi menjaga kualitas dan nama baik program MBG di seluruh Indonesia.
Artikel Terkait
Mobil Boks Terguling di Jalur Banjar-Pangandaran, Sopir Terjebak Dua Jam
Kericuhan Usai Persib Kalahkan Bhayangkara, Suporter Lempar Flare ke Arah Steward
Shakhtar Donetsk Jamu Crystal Palace di Semifinal Conference League di Polandia Akibat Perang
Braga dan Freiburg Bersaing Ketat di Semifinal Liga Europa, Leg Kedua Jadi Penentu