Nilai tukar rupiah pada 20 Januari 2026 tercatat menyentuh Rp16.945 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan yang cukup signifikan, sekitar 1,53 persen, dibandingkan posisinya di akhir tahun sebelumnya.
Menurut Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, ada beberapa hal yang mendorong pelemahan ini. Faktor utamanya adalah aliran modal asing yang keluar dari pasar domestik. Ketidakpastian yang melanda pasar keuangan global membuat para investor memilih untuk bersikap lebih hati-hati.
“Ada faktor-faktor domestik, tentu saja tadi kami sampaikan aliran modal asing keluar juga karena juga ada kebutuhan valas yang besar dari sejumlah korporasi termasuk oleh Pertamina, PLN maupun juga Danantara dan juga persepsi pasar. Ini persepsi pasar terhadap kondisi fiskal dan juga proses pencalonan deputi gubernur,”
jelas Perry dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (21/1/2026).
Di sisi lain, permintaan valuta asing dari perbankan dan korporasi dalam negeri juga ikut memberi tekanan. Kebutuhan itu muncul seiring dengan aktivitas ekonomi yang berjalan.
Namun begitu, tekanan tidak hanya datang dari dalam. Situasi global turut berperan besar. Ketegangan geopolitik yang kian meluas, ditambah dengan kebijakan tarif resiprokal dari Amerika Serikat, menciptakan gejolak. Akibatnya, aliran modal ke pasar negara berkembang seperti Indonesia pun terhambat. Dolar AS justru menguat terhadap mata uang negara-negara maju.
Artikel Terkait
Modal Hijau Global Tersendat di Lapangan, BRI Soroti Peran Krusial Bank Lokal
Kejagung Geledah Money Changer, Lacak Aliran Dana Korupsi Ekspor Limbah Sawit
Misteri Kematian Penumpang Perempuan di Peron Stasiun Gondangdia
Personel TNI-Polri untuk Haji 2025 Melonjak Dua Kali Lipat