Pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2025 ternyata cukup solid. Bank Indonesia mencatat angka 9,69 persen secara tahunan, sebuah capaian yang nyaris tepat di tengah rentang proyeksi mereka, yaitu 8 hingga 11 persen. Ini bukan angka yang muncul tiba-tiba, melainkan hasil dari beberapa faktor pendorong yang bekerja bersamaan.
Yang menarik, mesin pertumbuhannya datang terutama dari kredit investasi. Sektor ini melesat tinggi, mencapai 21,06 persen. Di sisi lain, kredit modal kerja dan konsumsi tumbuh lebih moderat, masing-masing 4,52 persen dan 6,58 persen. Pola ini menunjukkan arah yang jelas: dunia usaha mulai bergerak lebih agresif untuk ekspansi.
Lalu, apa yang mendorong semua ini? Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, ada kombinasi kebijakan yang berperan. Langkah pelonggaran moneter lewat penurunan suku bunga, diperkuat lagi dengan insentif likuiditas makroprudensial, memberi angin segar. Realisasi program pemerintah juga ikut mendongkrak, tentu saja di tengah kondisi makro yang relatif stabil.
"Pelonggaran kebijakan moneter dan penempatan SAL pemerintah di perbankan perlu diikuti oleh penurunan BI rate untuk mendukung kredit,"
ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur, Rabu lalu.
Artikel Terkait
Proyek PLTA Batang Toru Tersandung Pencabutan Izin Prabowo
BI Proyeksikan Ekonomi Indonesia Melaju 5,7 Persen di 2026
Rupiah Tembus Rp16.945, BI Sebut Ada Arus Modal Keluar dan Gejolak Global
Ekspansi Dua Liga Sepak Bola Putri: Dari Kalimantan hingga Solo