Kredit Investasi Melonjak 21%, Sinyal Ekspansi Usaha di 2025

- Rabu, 21 Januari 2026 | 16:35 WIB
Kredit Investasi Melonjak 21%, Sinyal Ekspansi Usaha di 2025

Pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2025 ternyata cukup solid. Bank Indonesia mencatat angka 9,69 persen secara tahunan, sebuah capaian yang nyaris tepat di tengah rentang proyeksi mereka, yaitu 8 hingga 11 persen. Ini bukan angka yang muncul tiba-tiba, melainkan hasil dari beberapa faktor pendorong yang bekerja bersamaan.

Yang menarik, mesin pertumbuhannya datang terutama dari kredit investasi. Sektor ini melesat tinggi, mencapai 21,06 persen. Di sisi lain, kredit modal kerja dan konsumsi tumbuh lebih moderat, masing-masing 4,52 persen dan 6,58 persen. Pola ini menunjukkan arah yang jelas: dunia usaha mulai bergerak lebih agresif untuk ekspansi.

Lalu, apa yang mendorong semua ini? Menurut Gubernur BI Perry Warjiyo, ada kombinasi kebijakan yang berperan. Langkah pelonggaran moneter lewat penurunan suku bunga, diperkuat lagi dengan insentif likuiditas makroprudensial, memberi angin segar. Realisasi program pemerintah juga ikut mendongkrak, tentu saja di tengah kondisi makro yang relatif stabil.

"Pelonggaran kebijakan moneter dan penempatan SAL pemerintah di perbankan perlu diikuti oleh penurunan BI rate untuk mendukung kredit,"

ujar Perry dalam konferensi pers Rapat Dewan Gubernur, Rabu lalu.

Prospek ke depan sebenarnya masih terbuka lebar. Dari sisi permintaan, ruang untuk ekspansi masih besar. Buktinya, fasilitas pinjaman yang sudah disetujui tapi belum ditarik nilainya masih fantastis: Rp2.439,2 triliun per Desember 2025. Angka itu setara dengan 22 persen lebih dari total plafon yang tersedia. Artinya, potensi penyaluran masih sangat besar.

Dari sisi perbankan sendiri, kapasitasnya dinilai tetap memadai. Likuiditas terjaga dengan rasio AL/DPK yang tinggi, di atas 28 persen. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga juga sehat, di angka 13,83 persen. Minat bank untuk menyalurkan kredit pun terus membaik, terlihat dari persyaratan pemberian kredit yang semakin longgar.

Namun begitu, tidak semuanya berjalan mulus. Pelonggaran itu rupanya belum merata ke semua segmen. Untuk kredit konsumsi dan UMKM, bank-bank masih terlihat lebih berhati-hati. Alasannya klasik: risiko kredit di kedua segmen ini dinilai masih cukup tinggi.

Memasuki 2026, optimisme tetap dijaga. Perry menyebut BI memproyeksikan pertumbuhan kredit akan berada di kisaran 8 sampai 12 persen. Proyeksi ini sejalan dengan prospek ekonomi yang diharapkan membaik, ditambah stimulus kebijakan yang diperkirakan masih akan berlanjut.

Ke depan, BI berjanji akan terus memperkuat koordinasi. Bersama pemerintah dan KSSK, mereka akan berupaya memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong penyaluran kredit. Tujuannya satu: mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan tentu saja, berkelanjutan.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar