MAKASSAR Tekanan sudah memuncak. Di titik inilah, Yuran Fernandes memutuskan untuk maju. Bek tengah sekaligus kapten PSM Makassar itu menatap laga lawan Semen Padang bukan cuma sebagai pertandingan biasa. Ini momentum untuk balik arah. Bagi timnya, dan tentu saja, bagi dirinya sendiri.
Senin, 2 Februari 2026, Stadion Gelora BJ Habibie akan jadi saksi. PSM Makassar menjamu Semen Padang di saat yang serba salah. Tim sedang terpuruk, kepercayaan suporter mulai luntur, dan sorotan paling panas justru mengarah ke sang kapten yang seharusnya jadi penenang.
“Kita mempersiapkan diri, bekerja, dan memperbaiki hal-hal yang kurang dari laga sebelumnya,” ujar Yuran.
Kalimatnya terdengar biasa, tapi beratnya terasa. Dia tahu betul kondisi tim sedang kritis.
“Dan kita ingin mengubah itu,” tambahnya singkat. Tapi sepak bola itu keras. Niat baik tak pernah cukup; yang dilihat selalu hasil akhirnya.
Semuanya berubah setelah satu blunder. Kekalahan dari Persijap Jepara bukan cuma sekadar angka. Itu adalah pukulan telak bagi kepercayaan diri. Gol kedua Persijap di menit ke-61, itu yang jadi titik patah. Dan di sana, Yuran ada di pusat kesalahan.
Situasinya sebenarnya sederhana. Tapi Yuran ragu. Alih-alih membuang bola, dia memilih menahannya. Tekanan datang, duel dia kalah. Wahyudi Hamisi merebut bola, memberi assist, dan Iker Guarrotxena menceploskannya dengan tenang ke gawang PSM.
Gawang jebol. Dan bersamaan dengan itu, citra Yuran sebagai bek yang tenang dan terpercaya, ikut retak.
Ini bukan salah posisi biasa. Ini blunder fatal, apalagi dilakukan oleh seorang kapten senior. Di sepak bola sekarang, satu kesalahan seperti itu bisa merusak lebih dari sekadar skor. Mental tim, struktur pertahanan, semuanya bisa ambrol.
Sebagai kapten, Yuran mestinya jadi pemain paling aman. Saat ditekan, buang saja bolanya. Jangan coba-coba berjudi dengan sentuhan tambah. Tapi yang terjadi malah sebaliknya.
Dia terlambat membaca situasi. Kalah sepersekian detik dan di level tertinggi, selisih waktu itu segalanya. Dan ini bukan pertama kalinya.
Beberapa laga terakhir memperlihatkan pola yang sama: antisipasi yang molor, keputusan setengah hati, kehilangan konsentrasi di saat-saat genting. Hampir selalu berujung kebobolan.
Ironisnya, dulu Yuran adalah pilar. Simbol ketanggahan lini belakang PSM. Duel udaranya dominan, gestur kepemimpinannya jelas. Kehadirannya bikin pemain belakang lain merasa lebih tenang.
Artikel Terkait
Persib Kokoh di Puncak Meski Borneo Menang Dramatis
Gol Dibatalkan VAR, Persebaya Cuma Raih Satu Poin di Kandang
Dion Markx Sambut Persaingan Ketat di Lini Belakang Persib
Merah Putih Gempur Bangkok, Sabet Empat Gelar di Thailand Masters