Sekarang? Gestur itu masih ada, tapi ketenangannya di lapangan seperti menguap. PSM kebobolan seringkali karena kesalahan sendiri yang diulang-ulang. Dan ketika kesalahan itu datang dari sang kapten, efeknya berantai. Mental buyar, pertahanan kacau.
Lima kekalahan beruntun. Dalam rentetan buruk itu, nama Yuran hampir selalu muncul. Bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai awal masalah.
Di sisi lain, pernyataannya jelang laga ini terdengar seperti janji pribadi. Dia ingin tampil bagus. Ingin buktikan diri. Inyiak bungkam kritik.
Tapi dunia profesional itu kejam. Masa lalu tak bisa dijadikan tameng.
Pemain muda yang salah? Itu bagian dari belajar. Pemain asing baru adaptasi? Masih bisa dimaklumi. Tapi kapten tim yang berulang blunder? Itu sudah masuk wilayah evaluasi yang serius bahkan mendesak.
PSM sekarang lagi di fase bertahan hidup. Dalam situasi seperti ini, keputusan berdasarkan loyalitas atau nama besar adalah kemewahan yang tak terjangkau. Mengevaluasi posisi Yuran bukan soal menghakimi. Ini lebih ke kebutuhan taktis belaka.
Nah, di sinilah Tomas Trucha diuji. Beranikah pelatih itu mengambil keputusan berat? Apakah nama ‘kapten’ masih jadi jaminan main, atau performa di lapangan yang harus jadi patokan?
Menurunkan kapten itu gampang-gampang susah. Bisa bikin ricuh di ruang ganti. Tapi memaksakan mainkan pemain yang lagi jadi sumber kebocoran? Itu risikonya jauh lebih besar.
Yang dibutuhkan PSM sekarang adalah bek yang kalem, disiplin, dan enggak neko-neko di area kritis. Kalau Yuran sudah enggak bisa kasih itu semua, maka rotasi bukanlah hukuman. Itu jalan keluar.
Jadi, laga kontra Semen Padang nanti jadi lebih dari sekadar tiga poin. Buat PSM, ini soal menghentikan tren buruk. Buat Yuran Fernandes, ini mungkin soal legitimasi terakhirnya sebagai pemimpin.
Janji sudah diumbar. Tekad sudah dikumandangkan.
Sekarang, tinggal lapangan yang akan bicara.
Karena dalam sepak bola, kritik hanya bisa dibungkam satu cara: lewat performa. Bukan kata-kata.
Artikel Terkait
PSIS Semarang Berbenah, Alfredo Vera Dikabarkan Jadi Arsitek Baru
Penalti Gagal, Como Gagal Tundukkan Atalanta yang 10 Pemain
Drama Injury Time, Manchester United Selamatkan Tiga Poin di Old Trafford
Persebaya Butuh Taring, Sananta Jadi Solusi Reuni dengan Tavares?