Prospek ke depan sebenarnya masih terbuka lebar. Dari sisi permintaan, ruang untuk ekspansi masih besar. Buktinya, fasilitas pinjaman yang sudah disetujui tapi belum ditarik nilainya masih fantastis: Rp2.439,2 triliun per Desember 2025. Angka itu setara dengan 22 persen lebih dari total plafon yang tersedia. Artinya, potensi penyaluran masih sangat besar.
Dari sisi perbankan sendiri, kapasitasnya dinilai tetap memadai. Likuiditas terjaga dengan rasio AL/DPK yang tinggi, di atas 28 persen. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga juga sehat, di angka 13,83 persen. Minat bank untuk menyalurkan kredit pun terus membaik, terlihat dari persyaratan pemberian kredit yang semakin longgar.
Namun begitu, tidak semuanya berjalan mulus. Pelonggaran itu rupanya belum merata ke semua segmen. Untuk kredit konsumsi dan UMKM, bank-bank masih terlihat lebih berhati-hati. Alasannya klasik: risiko kredit di kedua segmen ini dinilai masih cukup tinggi.
Memasuki 2026, optimisme tetap dijaga. Perry menyebut BI memproyeksikan pertumbuhan kredit akan berada di kisaran 8 sampai 12 persen. Proyeksi ini sejalan dengan prospek ekonomi yang diharapkan membaik, ditambah stimulus kebijakan yang diperkirakan masih akan berlanjut.
Ke depan, BI berjanji akan terus memperkuat koordinasi. Bersama pemerintah dan KSSK, mereka akan berupaya memperbaiki struktur suku bunga dan mendorong penyaluran kredit. Tujuannya satu: mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan tentu saja, berkelanjutan.
Artikel Terkait
Kementerian Keuangan Pastikan Anggaran Makan Bergizi Gratis Rp330 T Tak Dipotong, Pengawasan Diperketat
Warga Bekasi Diingatkan: Imsak Kabupaten 04.31 WIB, Kota 04.32 WIB
Krisis Energi Global Paksa Bangladesh Liburkan Seluruh Universitas
Kiper Ajax Maarten Paes Buka Suara soal Ledakan Emosi Usai Kekalahan dari Groningen