Ironi Pahit di Udara Maros: Pesawat Penolong Kemanusiaan Kini Jadi Sasaran Pencarian

- Rabu, 21 Januari 2026 | 03:00 WIB
Ironi Pahit di Udara Maros: Pesawat Penolong Kemanusiaan Kini Jadi Sasaran Pencarian

Rapat di Gedung Nusantara, Senayan, Selasa (20/1/2026) lalu, diwarnai pernyataan yang cukup menyentuh dari Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI M Syafi'i. Dia membuka fakta pilu di balik pesawat ATR 42-500 yang kini jadi objek pencarian di Maros.

Ternyata, pesawat itu bukanlah asing bagi tim SAR. Menurut Syafi'i, sebelumnya pesawat tersebut pernah diterjunkan untuk sebuah misi kemanusiaan. Misi itu adalah pencarian korban KM Maulana-30, kapal yang terbakar hebat di perairan Belimbing, Tanggamus, Lampung, pada Sabtu (20/12/2025) yang lalu.

"Ini menjadi kesan mendalam bagi kami," ujar Syafi'i di hadapan anggota Komisi V DPR.

Suaranya terdengar berat. "Karena pada saat operasi ini (KM Maulana-30), kami dibantu oleh pesawat yang saat ini sedang kami cari."

Ironinya kini berbalik. Basarnas yang dulu dibantu, sekarang justru berusaha menemukan sang penolong yang hilang. Situasi ini jelas meninggalkan duka yang dalam bagi seluruh jajaran Basarnas.

Tak berhenti di situ, tragedi ini punya lapisan kesedihan lain. Syafi'i menyebut tiga penumpang yang menjadi korban kecelakaan pesawat ATR itu adalah personel yang turun langsung dalam misi pencarian korban kapal terbakar tersebut.

"Begitu juga 3 penumpang yang terlibat dalam pesawat ATR ini merupakan 3 personel yang juga kami kenal dalam misi tersebut," tegasnya.

Artinya, mereka bukan sekadar nama dalam manifest. Mereka adalah rekan seperjuangan yang wajah dan kontribusinya dikenali dengan baik oleh keluarga besar Basarnas. Sebuah ikatan yang membuat musibah ini terasa semakin personal dan menyayat hati.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar