Pesawat ATR yang jatuh di pegunungan Maros, Sulawesi Selatan, diduga kuat telah menyimpang dari jalur penerbangannya. Ini bukan sekadar kecelakaan biasa. Medan di lokasi kejadian, yang dikenal berbukit-bukit dan terjal, jelas menambah faktor risiko yang signifikan bagi penerbangan apa pun.
Informasi awal ini disampaikan oleh Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, dalam sebuah rapat kerja dengan Menteri Perhubungan. Rapat itu digelar untuk menjawab berbagai pertanyaan publik, sekaligus menanggapi sorotan internasional yang menyertai musibah ini.
Menurut Lasarus, pihaknya telah mengumpulkan sejumlah laporan pendahuluan dari berbagai sumber, termasuk BMKG.
"Dari sisi teknis, tentu bukan kewenangan kami menyampaikan, kenapa pesawat berbelok ke arah situ, sebetulnya bukan jalurnya," ujar Lasarus di Kompleks DPR, Selasa (20/1/2026).
"Itu informasi awal yang kita terima, seharusnya posisinya tidak ke sana."
Tak hanya soal penyimpangan rute, dia juga menyebut adanya kabar mengenai riwayat gangguan mesin yang pernah dialami pesawat tersebut sebelum tragedi. Namun begitu, Lasarus dengan tegas menekankan bahwa semua temuan awal ini belum bisa dianggap sebagai kesimpulan final. Spekulasi harus dihindari.
Penentuan penyebab pasti, menurutnya, sepenuhnya berada di pundak Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Proses investigasi nantinya harus berlandaskan data teknis dan bukti empiris yang solid, sesuatu yang bisa dipertanggungjawabkan.
"Tentu ini menjadi kewenangan dari KNKT untuk diinvestigasi," katanya.
"Karena jatuhnya pesawat ini juga sampai menarik perhatian dunia luar."
Di sisi lain, Lasarus menegaskan bahwa kecelakaan semacam ini adalah peristiwa serius yang penanganannya harus komprehensif. Tujuannya jelas: mencegah terulangnya hal serupa di masa depan. Pemerintah dan semua pihak terkait, kata dia, benar-benar serius menangani kasus ini, mulai dari evakuasi korban hingga evaluasi menyeluruh terhadap sistem keselamatan penerbangan nasional.
"Kita serius menangani ini," pungkasnya.
"Kalau boleh jangan lagi ada kejadian yang sama terjadi."
Sebelumnya, seperti diketahui, Tim SAR gabungan bersama Kementerian Perhubungan telah menemukan serpihan yang diduga berasal dari pesawat ATR 42-500. Lokasi penemuannya berada di perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulsel sekitar 26,5 kilometer dari Bandara Sultan Hasanuddin, Makassar, dan tidak jauh dari posko Basarnas terdekat.
Artikel Terkait
Pemerintah dan DPR Sepakat Batasi Usia Pekerja Rumah Tangga Minimal 18 Tahun
Bapanas: Stok 9 Komoditas Pangan Utama Surplus, Data Berbasis BPS
Jokowi Tegaskan Restorative Justice Murni Ranah Aparat, Diam Saat Tanya Roy Suryo
Pria Diamuk Massa Usai Gagal Curi Motor di Parung