Di sisi lain, performa di kancah global justru memprihatinkan. Ekspor Jerman kembali mengalami penurunan. Ini adalah sinyal jelas bahwa masalah struktural belum teratasi.
Kepala Destatis, Ruth Brand, memberikan penjelasan yang gamblang.
"Bisnis ekspor Jerman menghadapi tantangan berat akibat tarif AS yang lebih tinggi, apresiasi euro, dan peningkatan persaingan dari China," ujarnya.
Untuk kuartal terakhir 2025, perkiraan pertumbuhannya stagnan di angka yang sama: 0,2 persen. Angka itu sekaligus menggambarkan betapa lambatnya pemulihan yang sedang berlangsung. Jadi, meski resesi berhasil dihindari, optimisme harus tetap dibarengi dengan kewaspadaan. Perekonomian Jerman masih dalam fase pemulihan yang rentan.
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar
OJK Siapkan Gugatan Perdata sebagai Senjata Terakhir dalam Kasus DSI