Harga Kakao Jatuh, Tapi Cokelat di Rak Masih Terasa Pahit

- Minggu, 21 Desember 2025 | 07:12 WIB
Harga Kakao Jatuh, Tapi Cokelat di Rak Masih Terasa Pahit

Ingat harga kakao yang melesat ke rekor tahun lalu? Nah, sekarang trennya berbalik arah. Bahkan, penurunannya disebut-sebut yang paling tajam dalam sejarah. Tapi jangan buru-buru senang. Kabar baik ini rupanya belum sampai ke rak-rak supermarket.

Harga cokelat batangan, permen, atau cokelat Santa musiman itu masih akan tetap mahal untuk waktu yang lama. Rasanya, beban konsumen belum akan berkurang.

Lonjakan harga tahun lalu yang hampir tiga kali lipat memukul telak industri. Produsen besar maupun kecil masih bergulat dengan stok biji kakao mahal yang mereka beli di puncak harga. Mereka terpaksa menaikkan harga jual, dan itu belum berakhir. Bahkan, banyak yang sudah mengubah resep, mengurangi kandungan kakao, atau mengecilkan ukuran produk. Perubahan seperti itu tidak mudah dibalikkan dalam sekejap.

Kapan harga cokelat baru bisa turun? Pelaku industri dan analis memperkirakan, paling cepat paruh kedua tahun depan. Itu pun belum tentu. Jadi, di tengah beban harga daging sapi dan kopi yang juga naik, cokelat mungkin harus berpindah dari daftar belanja rutin.

“Harga yang saat ini dihadapi industri cokelat sangat tinggi dan memberatkan,” kata Analis Komoditas, Jonathan Parkman di London.

“Akan butuh waktu cukup lama bagi kita untuk mengatasi hal itu,” imbuhnya.

Dari Puncak ke Jurang

Ceritanya berawal dari gagal panen. Wabah penyakit dan cuaca ekstrem menghantam perkebunan di Pantai Gading dan Ghana dua raksasa pemasok lebih dari separuh kakao dunia. Akibatnya, harga kakao sempat nyaris sentuh angka fantastis: USD 13.000 per ton.

Tapi situasi berubah. Prospek panen mulai membaik, permintaan melemah, dan kekhawatiran pasokan jangka panjang mereda. Harga pun terjun bebas. Menurut Bloomberg, sepanjang tahun ini harganya sudah anjlok sekitar 50 persen. Bisa jadi ini penurunan tahunan terdalam sejak pencatatan dimulai puluhan tahun silam.

Gejolak itu meninggalkan bekas yang dalam. Produsen dari skala rumahan hingga korporat besar di Eropa dan AS harus berjuang mencari pasokan sambil menjaga agar bisnis tetap jalan. Banyak yang terpukul. Dan dalam kondisi seperti ini, jangan harap mereka buru-buru menurunkan harga jual.

Ambil contoh Lambertz, produsen permen tertua di Jerman. Mereka punya stok kakao yang cukup hingga pertengahan 2026, karena membelinya saat harga sedang tinggi-tingginya. Hermann Bühlbecker, pemilik yang sudah setengah abad mengabdi di perusahaan itu, mengaku belum pernah melihat kenaikan harga seganas ini.

“Seingat saya, belum pernah terjadi ledakan harga seperti ini,” katanya.

Keputusan menimbun itu mahal. Biaya tahunan mereka melonjak sekitar €150 juta. Mau tak mau, beban itu dibebankan ke konsumen, meski volume penjualan akhirnya turun.

Produsen besar pun bersikap hati-hati. Nestle mengaku senang melihat harga kakao turun, tapi menyebutnya masih terlalu dini untuk berkesimpulan. Hershey memperkirakan efek deflasi baru terasa tahun 2026.

Scott Amoye dari Guittard Chocolate Co. di California bilang, fokus produsen sekarang adalah memulihkan margin yang tergerus.

“Anda mungkin akan mengalami periode yang signifikan pada tahun 2026 sebelum melihat adanya penurunan harga,” katanya.

Kewaspadaan yang Masih Tinggi

Alasan untuk berhati-hati memang ada. Meski sempat jatuh di bawah USD 5.000 per ton, harga kakao berjangka di New York kini kembali naik ke kisaran USD 6.000. Ekspektasi surplus besar musim ini mulai diragukan. Analis dari Rabobank dan Citigroup bahkan memangkas proyeksi mereka.

Akar masalahnya di lapangan belum selesai. Di Afrika Barat, petani kakao masih bergelut dengan dana terbatas, akses pupuk yang minim, dan tantangan perubahan iklim.

“Tantangan struktural jangka panjang belum terselesaikan,” kata Peter Feld, kepala eksekutif Barry Callebaut AG, dalam sebuah panggilan konferensi.

“Pertanian kakao di Afrika Barat menghadapi kesenjangan investasi kronis. Cokelat sudah terlalu murah terlalu lama,” tambahnya.

Perusahaan seperti Barry Callebaut kini berinovasi, mengembangkan alternatif kakao dan mempertimbangkan restrukturisasi bisnis. Sementara itu, banyak produsen lain memilih jalan pintas: mengurangi kandungan kakao atau memperkecil ukuran.

Di Jerman, batangan Milka yang ikonik itu sekarang 10% lebih ringan, meski harganya naik 25%. Di Inggris, beberapa produk bahkan tak lagi bisa disebut 'cokelat' karena mentega kakaonya diganti minyak nabati murah.

Perubahan resep semacam ini sifatnya menetap. Konsumen mungkin lebih sering dapat diskon promosi ketimbang penurunan harga permanen.

Seperti kata Allyson Myers dari Lake Champlain Chocolates, “Kami mungkin tidak akan bisa mengembalikan semuanya.”

Jadi, untuk sementara, nikmati saja cokelat itu sedikit lebih hemat. Atau, siap-siap merogoh kocek lebih dalam.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar