Kekhawatiran terbesarnya justru ada di hilir. Jika beban industri terus dipukul rata dan semakin berat, apa jadinya? Anindya khawatir kemampuan sektor riil menciptakan dan mempertahankan lapangan kerja akan tergerus. Padahal, menurutnya, menciptakan kesempatan kerja itu adalah fokus utama Kadin saat ini.
"Jadi memang kita salah satu fokus dari Kadin menciptakan lapangan kerja, dan tentunya di dalamnya mempertahankan lapangan kerja," tuturnya.
Lalu, adakah jalan keluar? Anindya melihat peningkatan produktivitas nasional sebagai kunci penyeimbang. Logikanya sederhana: kalau produktivitas naik, daya saing Indonesia di kancah global tetap terjaga. Investor pun tidak kabur. Dengan begitu, ruang untuk memberikan upah yang lebih layak bagi pekerja juga bisa terbuka lebar.
"Karenanya, kita mesti kompetitif dan apapun itu mesti ditingkatkan dengan peningkatan produktivitas," pungkas Anindya.
Jadi, dialog ini sepertinya belum berakhir. Tarik-ulur antara kesejahteraan buruh dan kesehatan iklim investasi masih akan berlanjut, dengan produktivitas sebagai salah satu variabel penentu di meja perundingan.
Artikel Terkait
Aturan Cedera Kepala Izinkan Persib Lakukan Enam Pergantian Pemain
Jadwal Imsak dan Subuh di Tangerang Raya untuk 3 Maret 2026
Pemerintah Tetapkan Sistem Satu Arah dan Ganjil-Genap untuk Mudik Lebaran 2026
Arab Saudi Bantah Lobi AS Serang Iran, Kilang Aramco Diserang Balasan