Kekhawatiran terbesarnya justru ada di hilir. Jika beban industri terus dipukul rata dan semakin berat, apa jadinya? Anindya khawatir kemampuan sektor riil menciptakan dan mempertahankan lapangan kerja akan tergerus. Padahal, menurutnya, menciptakan kesempatan kerja itu adalah fokus utama Kadin saat ini.
"Jadi memang kita salah satu fokus dari Kadin menciptakan lapangan kerja, dan tentunya di dalamnya mempertahankan lapangan kerja," tuturnya.
Lalu, adakah jalan keluar? Anindya melihat peningkatan produktivitas nasional sebagai kunci penyeimbang. Logikanya sederhana: kalau produktivitas naik, daya saing Indonesia di kancah global tetap terjaga. Investor pun tidak kabur. Dengan begitu, ruang untuk memberikan upah yang lebih layak bagi pekerja juga bisa terbuka lebar.
"Karenanya, kita mesti kompetitif dan apapun itu mesti ditingkatkan dengan peningkatan produktivitas," pungkas Anindya.
Jadi, dialog ini sepertinya belum berakhir. Tarik-ulur antara kesejahteraan buruh dan kesehatan iklim investasi masih akan berlanjut, dengan produktivitas sebagai salah satu variabel penentu di meja perundingan.
Artikel Terkait
OJK Siapkan Gugatan Perdata sebagai Senjata Terakhir dalam Kasus DSI
Ekspor Mobil China Melonjak 21% di 2025, Didorong Gempuran Kendaraan Listrik
Pabrik Vape Narkoba Rp18 Miliar Digerebek di Apartemen Mewasa Sudirman
Operasi Vape Narkoba di Apartemen Mewah Sudirman Digulung BNN