MURIANETWORK.COM - Aktivitas nelayan di pesisir Tangerang terhenti total sejak Kamis (12/2/2026) menyusul ditemukannya ribuan biota laut mati yang diduga kuat akibat pencemaran zat kimia. Peristiwa ini diduga berkaitan dengan kebakaran gudang pestisida beberapa waktu lalu, yang membuat para pelaut tradisional menghentikan operasi tangkap mereka karena kekhawatiran akan keamanan hasil laut dan kesehatan konsumen.
Dampak Pencemaran Meluas Hingga Kepulauan Seribu
Erni Kumalasari dari Kesatuan Perempuan Pesisir Indonesia (KPPI) Tanjung Pasir mengonfirmasi bahwa dampak pencemaran ini telah menyebar jauh melampaui muara Sungai Cisadane. Menurutnya, cemaran kimia tersebut bahkan telah mencapai perairan di sekitar Pulau Pari dan Untung Jawa di Kepulauan Seribu.
"Informasinya, cemaran kimia itu sudah sampai ke Pulau Pari dan Untung Jawa juga. Jadi para nelayan sudah enggak mencari ikan. Udang dan kerang di bagan-bagan juga pada mati," tutur Erni, Senin (16/2/2026).
Pantauan di lapangan menunjukkan pemandangan yang tidak biasa: puluhan perahu nelayan terlihat bersandar di muara, sepi dari aktivitas bongkar muat ikan segar yang biasanya ramai. Kondisi ini telah berlangsung selama lima hari dan belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir.
Jenis Ikan yang Terdampak dan Kekhawatiran Nelayan
Salah seorang nelayan setempat, Sahlan, menggambarkan skala kerusakan yang terjadi. Ia menyebutkan, berbagai jenis ikan tangkapan lokal seperti samge, duri, payus, putih, dan bulan-bulan terlihat mengambang tak bernyawa di permukaan air.
"Itu sekitar satu ton lebih ikan pada mengambang semua mati. Jadi saya lebih baik tidak melaut," ujarnya.
Keputusan untuk tidak melaut bukan hanya soal berkurangnya stok ikan, melainkan juga didorong oleh rasa tanggung jawab dan kehati-hatian. Para nelayan khawatir, ikan yang mungkin masih hidup di perairan tersebut telah terkontaminasi zat berbahaya. Mereka tidak ingin menjual produk yang berpotensi membahayakan kesehatan masyarakat.
Menanti Kepastian dan Informasi dari Pemerintah
Ketiadaan informasi resmi yang jelas mengenai tingkat keamanan perairan menjadi sumber kecemasan utama bagi komunitas pesisir. Tanpa kepastian itu, roda ekonomi warga yang bergantung pada laut tetap terhenti.
"Jadi pembeli juga takut makan ikannya, takut ikannya terkena limbah. Saat ini kita lagi tunggu informasi dari pemerintah, apakah tempat kita melaut ini sudah benar-benar bersih atau masih ada zat kimianya," jelas Sahlan.
Insiden ini semakin mendapat sorotan setelah video yang menunjukkan biota laut mati bertebaran di pesisir Tangerang viral di media sosial. Publik pun mulai menghubungkan peristiwa ini dengan kebakaran gudang pestisida milik PT Biotek Saranatama di Tangerang Selatan, yang diduga menjadi sumber awal pencemaran residu kimia ke aliran sungai dan akhirnya ke laut.
Artikel Terkait
Dugderan Semarang Usung Toleransi dan Libatkan Generasi Muda Sambut Ramadan
Wamendikdasmen Soroti Kesenjangan Mutu Sekolah Negeri-Swasta, Guru Jadi Kunci
Kapolda Sumsel Tinjau Langsung Pengamanan Klenteng Jelang Imlek di Palembang
Polres Tanjungperak Sterilisasi Lima Klenteng Jelang Imlek, Kondisi Dinyatakan Aman