Suasana riuh rendah kembali memenuhi sudut Kota Semarang pagi ini. Tradisi tahunan Dugderan digelar, menandai datangnya bulan suci Ramadan dengan semarak. Kali ini, tema yang diusung adalah 'Bersama Dalam Budaya, Toleransi dalam Tradisi'.
Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, hadir di tengah keramaian. Ia menjelaskan bahwa tema itu dipilih bukan tanpa alasan. Dugderan, menurutnya, adalah tradisi kuno yang sudah berhasil dirawat oleh masyarakat. Meski pada dasarnya merupakan tradisi muslim untuk menyambut Ramadan, ia telah menjelma menjadi kebanggaan bersama, milik semua umat.
"Dugderan menjadi momentum penting," ujar Agustina dalam keterangan tertulisnya, Senin (16/2/2026).
"Ini titik tolak untuk menghantarkan teman-teman Muslim memulai puasa. Namun begitu, yang juga kental terasa adalah semangat kebersamaan warga Semarang yang beragam. Mereka tetap rukun menjaga warisan ini."
Agustina lantas menyoroti ikon utamanya: Warak Ngendog. Filosofi di balik makhluk mitos yang 'ngendog' atau bertelur itu sarat makna. Ada pesan kerukunan, pengendalian diri, dan tentu saja harapan akan kesejahteraan untuk semua.
"Yang unik hari ini semua waraknya wajib ngendog," tuturnya dengan nada cair.
"Karena kalau waraknya tidak ngendog, nanti bisa congkrah kita ya, bisa bertengkar. Nggak ada rejeki yang bisa dibagi."
Ada yang baru tahun ini. Inovasi itu terlihat dari Pawai Dugder Anak yang melibatkan pelajar dan kelompok seni budaya. Suasana jadi lebih ceria.
Artikel Terkait
Pertamina Tambah Pasokan Elpiji Subsidi Jelang Libur Panjang di Madiun Raya
Arema FC dan Malut United Bermain Imbang 1-1 di Kanjuruhan
Banjir Rendam Ribuan Rumah di Lima Kecamatan Grobogan
Hujan Deras di Donggala Rendam 552 Rumah, Bupati Perintahkan Normalisasi Sungai